-award kesebelas!!-

Author: -boot_d- // Category:


...
wah! kebetulan!!

karena kompi gue lagi rusak, and (jadi) gak bisa ngepost cerita-cerita gue, (sorry, jadi curhat! T.T) gue langsung ngepost award yang baru aja gue dapet ini.....

taraa!!..... this is it!!

link banner ok


award ini gue dapet dari ichaelmago. jadi hal pertama yang bakal gue ucapin adalah;

"terimakasih banyak atas award ini ya.." *mingsep-mingsep (terharu mode: ON!)

dan award ini gue bagikan kepada:

 tiche, ahma, angga, awe, ayu, chaa, dina, farah, fauzy, ghozy

Oke! setiap award pasti ada aturannya! ini dia...


Bagi siapa saja yang menerima award ini diharuskan untuk membagikan kembali award ini kepada sepuluh orang temannya. Dan selanjutnya si penerima award harus meletakkan link-link berikut ini di blog atau artikel kamu :

1. Ruri
2. Mas Doyok - New Blog Trik
3. Irfan Rasyid
4. Tutorial Design Grafis
5. Blog Napi Blog
6. Not Yet Titlelized
7. !Rchymera!
8. Mufied
9. ichaelmago
10. boot_d

Nach sekarang aturannya sebagai berikut :

"sebelum kamu meletakkan link di atas, kamu harus menghapus peserta nomor 1 dari daftar. Sehingga semua peserta naik 1 level. Yang tadi nomor 2 jadi nomor 1, nomor 3 jadi 2, dst. Kemudian masukkan link kamu sendiri di bagian paling bawah (nomor 10). Tapi ingat ya, kalian semua harus fair dalam menjalankannya. Jika tiap penerima award mampu memberikan award ini kepada 5 orang saja dan mereka semua mengerjakannya , maka jumlah backlink yang akan didapat adalah 1.953.125. Nah, silahkan copy paste saja, dan hilangkan peserta nomor 1 lalu tambahkan link blog/website kamu di posisi 10. Ingat, kamu harus mulai dari posisi 10 agar hasilnya maksimal. Karena jika kamu tiba2 di posisi 1, maka link kamu akan hilang begitu ada yang masuk ke posisi 10.”

Ketika posisi kamu 10, jumlah backlink = 1
Posisi 9, jml backlink = 5
Posisi 8, jml backlink = 25
Posisi 7, jml backlink = 125
Posisi 6, jml backlink = 625
Posisi 5, jml backlink = 3,125
Posisi 4, jml backlink = 15,625
Posisi 3, jml backlink = 78,125
Posisi 2, jml backlink = 390,625
Posisi 1, jml backlink = 1,953,125

Dan semuanya menggunakan kata kunci yang kamu inginkan. Dari sisi SEO kamu sudah mendapatkan 1,953,125 backlink dan efek sampingnya jika pengunjung web para downline kamu mengklik link itu, kamu juga mendapatkan traffik tambahan.


kepada para blogger yang (tidak) beruntung diatas, silahkan diambil ya... 

keep blogging!! go! go!!

....


Baca Lanjutannya Ahh..

-write it!!-

Author: -boot_d- // Category:
Write what you feel…

Write everything that moving around in your mind dan heart. Write…everything that make you can think something till it can change all of you… to become yourself now… and dicided,
“I’ll do it!”


                                                                 ***


‘wah, bulan hari ini bagus ya..’ gue ngeliat bulan yang terang di langit waktu itu. Cuma ada beberapa bintang yang bersinar terang waktu itu. Gue duduk di tepi luar mushola gedung D3 setelah abis sholat isha. Melihat ke atas langit, dengan kedua tangan yang menyangga badan gue ke belakang. Angin waktu itu emang agak sejuk. Semua anak-anak udah kembali. Tapi nggak tahu kenapa, gue masih aja diem disini. Belum make sepatu gue. Gue masih kepikiran ama kalimat di majalah yang gue baca tadi siang.

’.. katakan perasaan anda kepada orang yang anda sayangi. Dengan mengatakannya, maka orang tersebut akan mengerti apa yang..’

Ugh!!... kalimat kaya gitu udah nggak asing lagi di telinga gue. Kalimat kaya gitu emang sering muncul dimana-mana. Bagai mantra yang semua orang udah setuju dan mengakui kebenarannya. Di televisi, film, koran, majalah, buku, dan berbagai macam media lain, yang memungkinkan buat menyampaikan sesuatu.
Ya, gue emang udah sering ngedenger, ngeliat, dan baca hal-hal kaya gitu. Tapi nggak tau kenapa, kali ini kayanya ada yang beda.

Gue mikir lagi, mungkin bagi sebagian orang, mengatakan perasaan kaya gitu ke orang lain mudah. Tapi bagaimana dengan sebagian orang lainnya, apakah semudah itu? Bahkan bagi gue, hal itu hampir mustahil buat gue lakuin sebesar apapun gue berusaha mengatakannya.
Ya. sejak dulu gue selalu berharap gue bisa kaya orang-orang itu, yang bisa dengan mudah mengatakan apa yang mereka rasain ke siapapun. Mengatakan apa yang sedang mereka pikirkan, apa aja keinginan mereka, apa aja harapan mereka dan lain-lain. Gue mikir, wah! Orang kaya gitu pasti selalu hepi ya! orang lain bisa dengan mudah, mengetahui apa yang lagi dipikirkannya. Tapi gue nggak! Gue lebih banyak berfikir daripada bicara. Pikiran gue seperti memiliki beribu-ribu filter yang menunggu untuk dilewati sebelum akhirnya gue bisa mengatakannya.

Gue selalu ingin bisa terbuka dengan orang-orang disekitar gue. Tapi selalu aja ada perasaan kaya, ’apa kalo gue ngomong gini, akan jadi lebih baik?’, atau ’apa yang gue pikirin ini udah bener?’, ’apa gue pantes ngomong kaya gini?’, ’apa ini waktu yang tepat ya?’
Hingga akhirnya gue hanya mengatakan sesuatu di saat yang tepat aja.



                                                                ***


...
Can you say it?
...


Bulan malam ini begitu sempurna untuk membawa gue ke semua pecahan-pecahan ingatan gue. Ingatan yang masih aja menjadi bagian hidup gue.
Gue masih inget, waktu gue maih duduk di TK dulu.
Waktu itu hari ibu. Kita sekelas disuruh buat yang namanya kalung dari sedotan warna-warni yang lucu, buat dikasihkan ke ibu masing-masing anak setelah kalung itu jadi. Tentu aja yang ngasihkan adalah anak yang buat.

Setelah semua anak selesei buat, guru ngomong ke anak sekelas.
”jadi anak-anak, nanti setelah sampai dirumah nanti, temui ibu kalian.” kata guru TK gue bersemangat, sambil memegangi kalung dari sedotan yang terlihat lebih bagus dan rapi daripada buatan kita sekelas ” Waktu udah siap, suruh ibu kalian menutup mata. Lalu pakaikan kalung itu di leher ibu kalian, lalu saat ibu kalian membuka matanya, bilang gini ya,..”
Guru itu diem sebentar.

”selamat hari ibu, Bu!..” guru itu memperagakannya dengan penuh semangat.
”gimana? Bisa kan?”

”hah?!”, ”Huh!!....”, ”masa pake gitu Bu!..”
beberapa anak banyak yang mengeluh. Mungkin mereka malu untuk mengatakannya. Tapi gue diem aja. Gue dalem ati,
’ini mustahil! Hati gue nggak akan kuat ngelakuin itu!’

Dalam perjalanan pulang, gue terus mikirin hal itu.
’dikasihkan nggak ya.. kenapa ati gue jadi gini.. bisa nggak ya..’

Akhirnya hari itu gue nggak jadi ngasihkan kalung itu ke nyokap gue. Gue cuman bisa diem aja, waktu pulang dan ditanyai nyokap, ’tadi diajarin apa di sekolah?’
Gue waktu itu cuma bilang dalem ati, ’Selamat hari ibu, Bu.. ’
’maaf Bu, hari ini kalung itu mungkin cuma akan selalu berada di dalam tas itu.. kalaupun suatu hari nanti ibu menemukannya, mungkin yang cuma bisa kukatakan adalah ”oh, itu buat waktu kerajinan tangan kemarin”’
Gue yang dulu masih kecil itu, selama dua hari mikirin hal itu. Hal yang seharusnya nggak terjadi, kalo gue waktu itu pulang dan memberikan kalung itu sesuai apa yang diinginkan guru gue. Gue tahu, kalo apa yang udah gue lakuin itu salah. Tapi gue terlalu malu buat bilang kalo gue sayang nyokap gue. Gue selalu nggak bisa ngomong apa-apa ke seseorang, saat gue memiliki perasaan ke orang itu.

Itu juga yang terjadi, waktu tiap gue pulang kuliah sore-sore. Udik, adik laki-laki gue yang paling kecil, yang denger suara vespa gue, pasti langsung keluar sambil bilang,
“wah! Mas pulang!!” dia bilang dengan penuh semangat. “sebentar, tak benerin dulu!” dia biasanya langsung benerin injakan buat sepeda motor yang miring biar vespa gue bisa langsung masuk ke dalam rumah.
Gue di saat-saat seperti itu, kepengen banget bilang, “makasih ya, Udik!”
Tapi enggak, gue sulit banget bilang itu. Yang bisa gue lakuin cuma tersenyum ke dia.

”eh, aku tadi gambar monster! Coba liat, bagus gak?”
Setelah itu, biasanya memang dia cerita apa aja yang terjadi seharian, ato apa aja yang udah dia lakuin ato yang dia gambar, dan nunjukkin ke gue.

Di waktu malam, waktu dia tidur, gue meluk dia dan mencium pipinya.
’selamat tidur.. dirimulah yang selalu bisa membuat gue tetap pulang kuliah tiap hari, seberat apapun perjalanan itu. Seberat apapun yang udah gue lewatin selama seharian.’


Sejak kecil, gue pengen banget orang-orang yang gue sayangi tahu, kalo gue sayang mereka. Nyokap, adik-aik gue, bokap, keluarga, temen-temen, gue pengen banget mereka tahu. Tapi entah kenapa, gue masih aja sulit ngomong sayang ke seseorang yang gue sayangi. Sekeras apapun gue mencoba mengatakannya. Yang bisa gue lakuin cuma berusaha ngelakuin dan bersikap yang terbaik, yang bisa gue lakuin ke mereka, dan berharap suatu saat mereka tahu perasaan gue melalui apa yang udah gue lakuin.
...



                                                                ***

...
When you fallin’ love, what would you do?
Can you say it?
Or..

Write it?


Angin malam itu makin berhembus. Udah nggak ada lagi orang yang lalu lalang.
Tetapi malam masih tetap hidup, dengan sinar bulan yang menghujani seluruh penjuru langit malam ini. Beberapa bintang terlihat sangat redup. Cuma satu bintang selalu tersenyum terang ketika malam tak berawan. Cuma dia, yang terlihat tak terelakkan oleh pekatnya malam.

”kenapa gue masih suka dia ya?”

Hening. Yang ada hanyalah hembusan angin itu.
Tak satupun menjawab. Bahkan Claire pun tak menjawab. Bintang yang selalu bersinar paling terang di saat malam tak berawan itu memang tak pernah menjawab. Kalaupun ada seseorang disamping gue, mungkin akan menjawab, ’mungkin kalian punya banyak persamaan kali... Mungkin saja kan?’



Gue mikir lagi, persamaan? Mungkinkah..


Persamaan...
Gue masih inget, waktu awal-awal dulu. Waktu dia pertama kali menarik gue bagai magnet dengan cara-cara anehnya. Menarik perhatian gue dengan cara bicaranya. Dan berbagai macam hal-hal lain yang ditunjukkannya yang membuat gue langsung berpikir, ’ah! Dia ternyata tahu..’
Hal-hal lain lagi, yang membuat gue so interesting dan berkata, ’ayo! Ayo! Apa lagi.. Show me who you really are..’
Hal-hal lain lagi, yang ngebuat gue selalu ngebuka wall dia saat gue online di facebook cuma buat tahu apa aja yang dia lakuin, ama siapa aja dia saling koment, dan nunggu saat-saat dia terlihat dalam daftar teman yang online agar kita bisa saling chat disana.
Hmph…. I’m feeling so stupid and blind on that point.

Hal-hal lain lagi, saat gue makin kenal dia saat kita ‘pernah’ seru-seruan dan gila-gilaan, sikap dan cara kekanak-kanakannya yang khas yang sanggup merubah keadaan biasa menjadi something happen, saling mengejek dan mengatakan, kalo kita sama-sama aneh.
After all, di satu titik gue mikir, I think I like her.

Yeah. I like You.


Persamaan? Mungkinkah..

Gue masih inget, waktu terus berjalan sejak saat itu. Gue yang waktu itu ngerasa begitu dekat denganmu, (entah apa yang membuatnya seperti itu, meskipun gue berusaha sekuat tenaga buat nggak mendekat), cuma bisa menutupi perasaan gue darimu. Gue berusaha keras agar perasaan happy gue nggak kebaca dengan jelas waktu di depanmu. Tak terbaca olehmu. Gue berusaha buat nggak berekspresi agar semua yang terjadi di diri gue nggak terlihat di depanmu. Agar semua terlihat wajar di depanmu.
Tapi percuma juga. Sebaik-baik gue, dirimu masih bisa tetap merasakannya.

Gue berusaha berfikir logis atas apa yang terjadi. Gue bertanya-tanya, apa yang sebenernya terjadi. Apa yang sebenernya gue rasain.
...
’nggak, ini pasti cuma perasaan sementara aja!’
’pasti ini nanti ilang sendiri..’
...
..

’memang apa kelebihannya, ampe gue kok jadi gini?’
...
..
’ayolah! Lagian, diakan sama sekali gak feeling ke kamu. Gak akan pernah..’
’you would just become hurt if you go like this! Remember that!!..’

‘kamu nggak akan berhasil! Seberapapun kau berusaha.. it was become a curse after all!’

‘yeah! It may just an illusion.’

Semakin jauh gue mikir, ini cuma akan semakin membingungkan. Yang terjadi hanyalah perang perasaan melawan logika. Tak pernah memunculkan penyelesaian.
Dan, akhirnya gue sadar..
Sebenernya yang terjadi adalah gue lari dari perasaan gue yang sebenarnya. The truly feeling..

the feeling that I love You.

I’ve run so far, because I never can show it to you… never can tell you.. that I love you.


Ya. Itulah yang terjadi. Gue kembali menyadari. Gue kembali mengingat-ingat hal-hal tentang apapun yang terjadi. Gue inget, waktu gue berusaha mengetahui dirimu yang sebenarnya, berusaha mengetahui kekurangan dan kelebihanmu agar gue bisa kembali berfikir logis tentang dirimu. But it’s not work! Never work!
Justru sifatmu yang ceria dan selalu bersemangat itulah sebenarnya kelebihanmu. Sifatmu yang sanggup menyemangati orang lain itulah kelebihanmu yang sebenarnya.

Kebiasaan gue yang menerima orang lain apa adanya dengan segala kelebihan dan kekurangannya, menganggap kekurangan orang lain adalah kelebihan lain dari orang tersebut ngebuat gue sadar satu hal: Gue emang selama ini udah berfikir logis terhadap apapun. Paling logis. Gue emang selama ini nggak pernah me-nomorsatu-kan perasaan gue. Gue selalu memikirkan apa yang memang seharusnya dilakuin, bukan apa yang ingin gue lakuin.
So, In my most logical condition of my mind, I still love You.

Gue masih inget, apa yang terjadi akhir-akhir ini. Gue langsung menyadari, betapa egoisnya gue. Gue selalu menyimpan perasaan gue sendiri, dan berusaha menangani sesuai cara gue sendiri, tanpa sedikitpun memberitahukannya. Tanpa sadar. Gue menyakiti diri gue sendiri, bahkan mungkin tanpa sadar menyakiti temen-temen gue yang lain, mungkin juga dirimu.


                                                                ***

”kenapa gue masih suka dia ya?”

Hening. Masih tak satupun menjawab.


…..
Langit malam mulai berawan. Bintang-bintang itu tak terlihat lagi. Gue menutup mata. Semua hal dan kenangan tentang apa yang terjadi kembali mengait di setiap ingatan gue...
Gue tersenyum..

Ingatan itu, ingatan saat gue pertama kali bertemu, kita mengobrol dan bermain permainan kotak-kotak angka yang nggak jelas waktu itu.

Ingatan itu, saat pada suatu waktu kamu berkata, ”aku sudah baca semuanya!”

Ingatan itu, saat tanpa sadar, gue sudah terlalu dalam masuk dalam kehidupan kalian dan sering menghabiskan waktu bertiga. Saat-saat gue menyadari dan bicara pada diri sendiri, ’Seharusnya aku nggak mengganggu kalian. Kalian berdua sudah bahagia’.

Ingatan itu, di saat-saat gue berusaha menjauh dan menghindari segala hal yang bisa membuat diri gue bertemu lagi denganmu.

Ingatan-ingatan itu, perasaan ’something happen’ di ati gue tiap bertemu dirimu.. hingga kini.

Ingatan itu, saat pada suatu waktu kamu berkata, ”we are who we are..”




Finally, I can understand what is it..
Sebenarnya gue nggak mau perasaan ini ilang. Gue cuma nggak bisa mengatakannya, itu aja.
Bukankah perasaan itu datang dan mengalir dengan sendirinya? Kalaupun memang waktunya untuk menghilang, biarkan itu terjadi secara alami dan mengalir. Kalaupun perasaan ini memang masih akan lama, biarkanlah. Gue gak akan melakukan sesuatu unuk mempercepat atau memperlambatnya
Yeah, just let it flow coz everything have it’s time.

Yang perlu gue lakuin bukankah melakukan yang terbaik buat orang-orang yang gue sayangi??
Ya. Sebenarnya cuma itu yang perlu gue lakuin.
Masalah orang yang kita sayangi mengerti atau tidak?? Itu urusan lain..
Like what I’ve know,
Cinta dan ’perasaan ingin memiliki’ itu dua hal yang berbeda.


Oke, mulai sekarang gue mau lebih terbuka dan menjalani hidup sepenuhnya!!
Gue udah lelah bersembunyi dari dunia.



                                                               






                                                                ***

..
....
Gue membuka mata. Langit masih saja berawan.
”Claire, bilang hilayama sepuluh kali!!..”

Gue tersenyum sekali lagi.
”ya, kau benar. aku memang tak bisa mengatakannya dengan ceria dan penuh semangat seperti dirinya.”
”tapi mulai sekarang aku berjanji akan lebih bersemangat lagi!!..”
”bukankah seharusnya memang kita menjalani hidup seperti itu? Penuh semangat?”

Gue beranjak. Berdiri. Awan itu terus bergerak. Claire kembali terlihat. Terlihat terang. Di mata gue, kali ini dia bersinar lebih terang dari biasanya.
”baiklah!!... ayo kita pulang! temani aku malam ini untuk menuliskan semua ini. sebelum aku mengurungkannya dan menyesalinya...”

Ya. Sebelum gue menyesal karena tak pernah bisa mengatakannya.
Sebelum akhirnya gue menyesal karena tak bisa, bahkan hanya untuk menuliskannya untuk dirinya.
........
.....
...



Write what you feel…

Write everything that moving around in your mind dan heart. Write…everything that make you can think something till it can change all of you… to become yourself now… and dicided,
“I’ll do it!”

Although if you can’t say. Coz everyone can read it!





Baca Lanjutannya Ahh..

-after one year!!-

Author: -boot_d- // Category:

(31 juli 2009)



Yip-yiph!!..

Wah! Nggak kerasa ya, udah setaun lebih sejak blog ini dibuat.
Dan banyak kisah haru biru yang menyertai pada proses penyempurnaan blog ini tentunya.. (ceileh..)
Banyak banget kisah, mulai dari mengacaukan blog dengan naruh script kode sembarangan, (yang ngebuat gue depresi selama 2 minggu, karena blog gue jadi nggak karuan dan mulai membenci pencipta kode html), bingung mau diisi apa blog gue ato mau nulis apa di blog, (dan sempet mempertanyakan, mengapa gue buat blog), gila nulis dan masih buanyaaaakkk banget hal-hal yang terjadi selama setaunan ini! (untuk yang dianggap gila ama temen ama dosen gue karena nulis hal-hal yang nggak pentng di blog, nggak termasuk!)
Yeah! Gue udah ngelewatin (hal-hal yang abnormal) itu semua hingga blog ini tampil warna-warni seperti yang kamu liat sekarang.
(kalo yang kamu liat sekarang cuma warna item, itu artinya monitornya belom nyala!)
Flashback ya..
Oke, here we go..



Gue masih inget betul, setaun yang lalu, waktu gue pertama kali masuk kuliah, (dugaan kuat, bisa lolos karena tes gambar aja), ada yang namanya ospek jurusan. Dan tugas pertama dari kegiatan ini adalah ’membuat blog’. Nah, kalo di ospek laen kita disuruh buat papan nama, pake pita, ato hal-hal lainnya yang nggak jelas, ini enggak. Kita disuruh buat blog! Ini adalah awal mula semua ini terjadi.
Wah! Membuat blog! Keren! Tapi.. blog? Apa? BLOG? Gue yang masih anak desa dan kebanyakan makan tebu di sawah BENER-BENER nggak tahu apa yang namanya blog. Bahkan denger kata ’blog’ aja baru waktu itu.
”blog itu kaya website yang kita buat sendiri!” kata seseorang di samping gue.
Setelah tahu kalo blog itu kaya semacam web yang kita buat sendiri, gue baru ngerti.
Tugasnya simpel. Kita disuruh buat blog, lalu disuruh posting minimal 5 post tentang Teknologi Telkomunikasi. Kemudian, untuk tahu kita udah buat blog apa enggak, kita disuruh ngirim e-mail ke alamat yang udah ditentuin dengan nyantumin data diri dan alamat URL blog yang udah kita buat. Setelah ngelakuin itu, nanti kita akan dapat e-mail balesan yang berisikan berada di kelompok mana dan ama siapa aja kita di pertemuan selanjutnya.
WIH!!.. KEREENN!!..
(entah kenapa, gue waktu itu ngerasa kalo sistem tugas ini keren banget! Ini udah kaya spy ato agen rahasia yang melakukan tugas untuk markasnya dari tempat jauh, lalu kemudian dia dapat data transfer file kalo dia udah berhasil membunuh musuh yang menjadi target. Bener-bener keren! Gue keren!)


Akhirnya gue ke warnet temen gue. Buat blog. Karena masih nggak tau apa-apa, pilihan gue waktu itu adalah blogger. (ampe sekarang!)Gue yang dulu masih nggak tau apa-apa, langsung maen copy paste untuk masalah tugas posting. (harap maklum )
Setelah satu jam lebih berkutat di warnet buat mempalajari gimana caranya posting, ngeliat gimana hasilnya setelah di posting, dan akhirnya mengirimkan email sebagai penutup, gue kelar.
Berdehem sebentar, lalu berteriak, ”misi selesei, Jendral!”.
Akhirnya pulang dengan tenang, setelah diteriakin temen gue, “Bud, belum bayar!“
Besoknya gue dapet email balesan.

Beberapa saat setelah itu, gue lupa kalo gue pernah buat blog. Hari –hari gue masih diisi dengan proses adaptasi di kampus. Kaya misalnya berusaha kenal temen-temen sekelas, kenal dosen-dosen yang ngajar, mempelajari materi kuliah yang diajarkan, dan bagaimana cara menggunakan toilet di gedung D4 dengan baik dan benar.
Hari-hari gue masih dipenuhi pikiran-pikiran gue kayak; ”Agh!!.. kenapa kuliah disini BERAT SEKALI!!..”
Ato gini, ” oh my gosh! Ruang B.. itu dimana ya? apa itu toilet?”
Dan terakhir,
“kenapa semua gedung dan ruangan disini SEMUANYA KOTAK?! Gimana bedainnya coba!?”

Sampe akhirnya suatu hari gue mikir dan tersadar, ”eh, kemaren aku kan buat blog..”
”kenapa gue nggak coba otak-atik blog yang udah dibuat itu ya? itung-itung, itu kan buatan sendiri?”
Maka, nggak lama sejak hari itu gue mutusin buat ngotak-atik blog gue. Itung-itung belajar script kode.
(jujur, ampe saat ini gue gak bisa skrip ato kode pemrograman sama sekali! sebanyak apapun gue belajar, antibodi gue menolak!)

Hal pertama yang menarik perhatian gue buat gue otak-atik adalah template!
Ya, template!
Seperti semua blog yang pernah ada, template sebuah blog tidaklah permanen. Bisa kita ubah-ubah. Gue yang waktu itu ngeliat template blog gue yang warna ijo standar, (dengan ada foto gue di sisi bar kanan yang norak banget) yang secara default ada di pilihan template blogger, nggak puas dengan keadaan blog gue.
Berdasar analisis kalo blog yang baik adalah blog yang punya desain yang bagus, maka gue memutuskan buat merubah template blog gue.

Ya, semuanya harus diubah! Gue nyari-nyari template baru.
Dan.. gue mendapat satu pelajaran berharga. Ternyata pilihan template yang disediain oleh blogger cuma itu-itu aja! Aghh!!..

Akhirnya (setelah beberapa lama), gue nemu juga template-template blogger yang bagus!
(Setelah selama sebulan terpaksa pake template pilihan default dari blogger warna putih polos dan nggak nyadar, kalo semuanya bisa kita cari kalo ada Google.)
Dari beragam template yang berhasil gue dapet dan gue cobain satu-satu, akhirnya gue milih satu. Template warna item dengan tema iPhone. (sampai kamu baca blog ini sekarang, masih sama!)

Haha.. lucu ya.. pengalaman mengganti-ganti template blog berkali-kali, sempet membuat blog satu lagi buat percobaan kode-kode script, sampai yang namanya stres dan depresi yang berat,(manic depression?), karena contoh template dan hasilnya gak nampak itu kayaknya udah lama sekali terjadi. Padahal, mungkin itu baru beberapa bulan yang lalu aja.

Ya, gue masih inget betul! Setelah itu, waktu terus berjalan. Gue masih bingung, blog yang udah gue ubah template-nya dan gue ganti headernya ini mau gue isi apaan?!
Dalam ati gue nanya-nanya, enaknya diisi apaan ya? waktu itu, setelah menghapus postingan-postingan gue yang tentang Teknologi Informasi, blog gue gue isi ama kata-kata mutiara. Kalo diisi tentang bisnis, ah! gue gak suka blog berbau bisnis. Kalo diisi bokep, ah! Itu kan pornografi! Kalo diisi tentang ilmu pengetahuan, gue nggak tahu sampai kapan akan bertahan.

”ah!..” setelah beberapa saat, gue nemuin sebuah ide. ”gimana kalo blog ini gue isi dengan cerita tentang sehari-hari gue aja?”
Ya. itu ide yang sangat bagus. Hari-hari gue kan kebanyakan isinya cerita-cerita abnormal, jadi pasti seru kalo diceritain! Selain gue bisa berlatih nulis, ini juga pasti berguna kalo suatu saat nanti misalnya gue jadi terkenal dan banyak wartawan yang dateng dan mewancarai gue,
”bagaimana riwayat hidup anda, sehingga bisa menjadi super keren dan terkenal begini?”
Ato mungkin
”apa saja yang sudah anda lakukan sewaktu remaja, sehingga meraih sukses yang luar biasa seperti sekarang?”
Ya. Mungkin gue cuma perlu ngejawab,
”baca saja blog saya. Semuanya ada di sana!”
“termasuk tentang blog anda yang menyebabkan seluruh pelajar di indonesia tidak lulus ujian tahun 2011?”
”ya, itu juga.”

Akhirnya, sejak saat itu gue mulai berlatih menulis. Mencoba menulis cerita sehari-hari gue. Mulai dari cerita gue dan keluarga gue, gue dan temen-temen (abnormal) sekelas gue, pemikiran-pemikiran gue dan macem-macem hal yang emang gue pengen tulis.
Setelah beberapa kali menulis dan ngerasain sesuatu yang beda dibanding waktu gue ngalakuin berbagai hal lainnya, gue menyadari satu hal. Disinilah gue seharusnya berada!
Lalu entah kenapa, gue langsung mutusin,
’Gue akan terus menulis!’

Terus berjalan, gue yang terus menulis dan blog ini sama-sama ikut berkembang.
Gue terus menulis sejak saat itu. Entah kenapa, gue terus terobsesi oleh kesempurnaan sebuah tulisan melalui blog ini.
Banyak juga pengalaman seru di sela-sela kegiatan menulis dan blog gue ini. Mulai dari ikut review komik Kambingjantan-nya Raditya Dika (nggak menang sih, tapi seru udah ikut berpartisipasi), ikut lomba cerita Gagasmedia (dapet kiriman 3 buah buku dari Gagas media), ikut masang bannernya movie Kambingjantan buat ngerebutin 200 tiketnya (dapet tiketnya, tapi harus ngambil di Jakarta -.-”), dan masih buanyak lagi lainnya..

Ada juga berbagai macem respon dari orang-orang di sekitar gue dan temen-temen blogger tantang apa yang gue tulis dan siapa aja tokoh di dalemnya..
Mulai dari gue yang nggak sengaja nunjukkin alamat blog gue ke dosen waktu lagi chat di fesbuk, dan dapet komen, ”kamu ternyata lucu juga ya”, terus berlalu sampai penemuan blog gue oleh temen-temen sekelas gue dengan kalimat khas mereka, ”anjrit! Aku kok ada di blog kamu? Gawat nih!..”, terus berlalu, ampe temen kuliah gue yang nggak sengaja baca semua isi blog ini dan mulai meneror gue, penemuan postingan gue yang memuat ceritanya dan berkoment di fesbuk, ”like this! Tapi aku terlihat aneh disana! Aneh banget!” dan terus berlalu, ampe yang namanya blogger di fesbuk yang nanyain tentang siapa orangnya,yang udah gue tulis di blog ini, dan masih banyak beragam peristiwa-peristiwa aneh yang nggak kalah serunya ampe saat ini.

Gue juga udah ngelewatin, yang namanya susah senang dalam menulis, mulai dari kritik dari temen-temen dan orang lain tentang bagaimana sebaiknya menulis itu, apa yang boleh ada dan tidak, bagaimana kita tetep memberi semangat ke diri sendiri buat nulis meskipun kita udah dalam keadaan nggak mood sama sekali buat nulis atau sedang dalam keadaan ’gue udah nggak mungkin lagi bisa nulis!’.
Gue juga udah tahu yang namanya terlalu sibuk, hingga nggak sempet sama sekali buat nulis, kehilangan arah dan semangat buat nulis, dan bagaimana rasanya fesbuk udah menyedot terlalu banyak perhatian kita daripada blog yang udah kita buat sendiri.
Ya, semua itu udah gue laluin.


Fiew!!... ternyata banyak juga ya, yang udah terjadi selama setaunan ini..

Kalo gue waktu itu nggak ngerjain tugas ospek buat bikin blog, apa ya yang akan terjadi?
Apa jalan hidup gue masih akan tetap seperti ini?
Apa gue masih bisa kenal ama para blogger, yang sekarang udah menjadi layaknya temen deket gue sendiri?
Apa gue juga masih akan mengalami, bagaimana serunya melihat respon dan komen orang lain dan temen-temen gue, saat membaca tulisan gue dan melihat mereka ada di dalam cerita yang gue tulis tersebut?
Apa gue masih akan terus bersemangat menulis dan masih berkeinginan kuat menjadi penulis?
Gue nggak bisa bayangin..


Gue masih aja mikir,

’Apakah sebuah blog dapat merubah jalan hidup seseorang?’

Gue udah nggak sabar buat nunggu tahun depan, buat nulis apa aja yang udah terjadi di kehidupan gue, blog ini, dan berbagai hal seru lainnya.



Tunggu post berikutnya ya.. \^O^/


Keep blogging!
Go! Go!...




Baca Lanjutannya Ahh..

-kenapa 20:45?! bukan 17:55!! -

Author: -boot_d- // Category:

(rabu 22 juli 2009)




Pernah muter-muter di mall??
Lalu, kalo kamu disuruh nunggu 2 jam di mall, apa yang akan kamu lakukan?
Apa aja yang mungkin akan terjadi disana??
...


...
Cerita ini waktu Gue, Ve, ama Uriq pergi nonton Harry Potter VI: The Half-Blood Prince.
(oke! untuk mencegah terjadinya kesalah-pahaman, perlu diperhatikan;
Ve : dia cowok. Meskipun namanya mirip cewek, tapi dia cowok.
Uriq : dia cewek. Kebalikannya, meskipun ada yang bayangin dia cowok, dan aneh, tapi sebenernya dia asli cewek.
Tapi untuk bagian ’aneh’, kamu bener!)


                                                                        ***
Ya. kita emang mau nonton pilem Harry Potter ke-enam. Dan mall yang (tidak) beruntung itu adalah G Mall (Galaxy Mall). Mall yang terdekat dengan kampus kita.
Yang ternyata, deket banget ama tempat kost-nya Ve.
(dan gue baru nyadar, kalo mall itu emang deket banget dengan tempat kost anak-anak)

Singkat cerita, karena kita nggak berangkat kesana dengan jalan kaki meskipun jaraknya deket, dalam waktu kurang dari 10 menit kita pun nyampe di mall tersebut.
Kita muter-muter di lantai 1.
”Studionya disebelah mana ya?” kata Uriq yang terlihat kebingungan dengan lokasi studio di tempat ini.
”lho? Emang nggak pernah kesini sebelumnya?”tanya Gue. Gue mikir, ini bukan awal percakapan yang baik.
”belom..”
”heh? Kirain udah pernah kesini.. kamu Ve?”
”pernah sih... tapi udah lama...” jawab Ve, yang agak beda dengan jawaban Uriq. Tapi kalimat homonim yang barusan dia katakan itu, menurut gue artinya sama aja! Nggak pernah juga.
”berarti nggak satupun dari tiga bertiga pernah kesini ya..”
”iya..”
Dalam beberapa detik aja, satu fakta terungkap. Nggak satupun dari kita bertiga pernah ke sini!
Great!..
.....
...
.


...
Kalo dipikir-pikir, kenapa ya selalu aja ada hal yang nggak wajar terjadi?!
Gue masih inget betul 30 menit yang lalu, waktu Ve ngajak gue nonton..
(yang merupakan awal dari ini semua..)
...
“eh Bud, nggak ikut?”
”kemana?”
”nonton Harry Potter. Sama Furi juga.”
”ayo!... eh, tapi aku nggak bawa STNK!...” gue baru nyadar, kalo gue hari ini lupa bawa STNK. Vespa gue terpaksa gue taruh di luar parkiran.
”nggak bawa STNK? Halah, gak pa-pa!.. ”
”hah?!”
”eh! Tapi kalo kesana harus diparkir kan ya?...”
”ya iyalah!...”
Lalu selama beberapa detik, Ve terlihat seperti memikirkan sesuatu.
...
”Oh! Kayak sebelumnya aja!..”
”apa?”
”kita estafet!”
...
...
Beberapa menit kemudian, gue baru (bener-bener) mengerti apa maksud dari kata ’kita estafet!’ itu!
Ternyata kita emang berangkat kesana dengan cara estafet alias BERGANTIAN!!

reka ulang:
(Diperagakan oleh model)
1. Uriq datang ke tempat kost Ve dengan motornya. Terlihat aneh dengan helm di kepala.
...
Ve : kenapa bawa helm?
Uriq : lho? Katanya ke G Mall?
Ve : wong deket sini aja! Nggak perlu helm. Kita lurus aja lho udah nyampe!
Uriq: kirain bakalan lewat jalan raya!
Ve : nggak usah!...
Uriq: ARGHH!!..


2. Giliran gue heran. Ve masih bawa tas laptop-nya.
...
Gue : eh, nggak berat bawa tas terus?
Ve : udah nggak ada isinya.
Gue : lho? dimana laptop-nya?
Ve : ku tinggal di kamar kost.
Gue : LALU, KENAPA MASIH AJA BAWA TAS??!!..
Ve : nggak enak aja, kalo nggak bawa tas.
Gue : ...

3. kemudian bertiga bingung, siapa dulu yang berangkat. Sempet mau suit.
4. Uriq ngalah. Gue ama Ve berangkat duluan.
5. nyampe di tempat. Gue titipin Ve di tempat penitipan barang terdekat.
6. Sesaat merasa kehilangan. Balik ke tempat kost.
7. nyampe di kost. Uriq udah nunggu dengan aura kegelapan.
8. Gue ama Uriq berangkat.
9. nyampe dengan selamat.
10. Nyari Ve yang terlantar.

Aghhh!!..
Estafet!!... baru pertama kali ini, gue berangkat nonton dengan cara yang aneh kayak gini!!...
untung kita cuma ber-tiga! Coba bayangin, kalo kita nonton rame-rame ber-sepuluh!
Itu berarti gue harus nganterin mereka semua bolak-balik sepuluh kali!

Gue ulangi,

SEPULUH KALI!!..

Dan (berdasarkan analisis gue, yang menggunakan sistem pergerakan kuantum ruang dan waktu yang diukur dengan sistem perhitungan bilangan hexagonal semi simetris non polar yang ngebuat gue jadi bingung sendiri itu), waktu kita lengkap ber-sepuluh nyampe disana, pasti filmnya udah SELESEI!!
Coba pikir! Ini mau nonton, apa cuma mau gantian bolak-balik naik odong-odong?! (baca: nyiksa gue)
Aghh!!....
(btw, kalo ber-sepuluh, kenapa juga cuma satu motor?)

Note:
kalo suatu saat temen kamu bilang ’kita estafet!’, sangat besar kemungkinan akan terjadi sama seperti diatas.
Waspadalah!..
...

.
...
....
”ayo naik!” ajak Ve. Waktu menunjukkan udah pukul 17:30 lebih.
Kita naik eskalator ke lantai 2. Sadar, emang sangat kecil kemungkinan studio berada di lantai 1.(mall mana sih, yang studionya ada di lantai 1?!)
Kita muter-muter di lantai 2. Nyoba nyari, mungkin studionya ada di lantai 2. Agak lama kita menjelajah di sini.
Kalo dipikir-pikir, sistem pencarian kita emang simpel ya..
Simpel banget malah! Pertama-tama, kita cari di lantai 1.
Tidak menemukan tanda-tanda adanya studio di lantai 1, kita naik ke lantai 2.
Tidak menemukan tanda-tanda adanya studio di lantai 2, kita naik ke lantai 3.
Tidak menemukan tanda-tanda adanya studio di mall ini, langsung jorokin Ve dari lantai 3.

Ternyata studio-nya ada di lantai 3. Kita bertiga langsung masuk. Antrian panjang menanti kita.
...
”coba liat yang di studio 1 mbak!..” kata Uriq ke mbak penjaga tiketnya, setelah kita bertiga berhasil bertahan hidup dari antrian yang lumayan panjang itu. Si mbak-nya lalu menunjukkan letak-letak kursi yang masih kosong yang ada di studio 1. Kita bertiga ngeliat titik-titik warna biru dan merah di layar monitor, yang merupakan tanda terisi tidaknya kursi-kursi di tiap studio.
Ternyata yang kosong tinggal kursi-kursi di bagian depan.
”kalo studio 5 mbak?” kata Uriq lagi, nggak puas dengan sisa kursi yang kosong.
Lalu mbaknya kembali menunjukkan sekali lagi kenyataan yang pahit. Kursi yang di studio 5 yang kosong juga di deretan sebelah depan aja. Kita telat.

Waktu kita liat jadwalnya, Harry Potter emang di puter di dua studio sekaligus. Studio 1 dan 5. Jamnya yang paling deket adalah pukul 17:55. Lalu jadwal main lagi pukul 20:45. Tapi yang nggak kita pikirkan sebelumnya adalah, penggemar pilem Harry Potter ternyata sangat-sangat banyak! Percuma juga, buka dua studio kalo penggemar pilem ini banyak sampai membeludak gini. Gue jamin, kalo aja kelima studio itu dipake buat pilem Harry Potter semua, pasti semuanya juga bakalan penuh!
Ternyata kita emang telat.
”kalo yang jam delapan nanti mbak?” tanya Uriq. Harapan kita kayaknya hanya ada di jam beikutnya.
”yang studio 1?”
”iya.”
Lalu mbak-nya kembali memperlihatkan lokasi letak kursi-kursi yang ada di studio 1 itu sekali lagi.
Begitu juga studio 5, waktu kita tanya lagi.
...

...
”yang studio 5 aja mbak”
”yang 20:45?”
”iya.”
”berapa? Tiga?”
”iya”
”sebelah mana?”
”yang.. ”
”sini?”
”ya. yang sini aja.”
...


                                                                        ***
Dan di sinilah kita bertiga, di luar studio. Nggak tau mau ngapain. Di depan kita banyak orang jalan kesana-kemari. Kita berhenti sebentar.
Satu hal. Gue masih nggak tahu, kenapa tadi Uriq milih yang pukul 20:45. Bukan yang 17:55. Itu berarti, kita masih harus nunggu dua jam lagi.
”kok milih yang 20:45? Bukan yang 17:55 aja?” tanya gue penasaran.
”penuh Bud!.. ” Uriq ngejawab sekenanya.
”perasaan, yang ini juga penuh deh!” gue membela balik. Ngerasa yang gue liat tadi emang penuh semua.
”lho? Tapi masih mendingan yang ini!... kalo kita tadi pilih yang jam lima, kita nanti bakalan liat paling depan! Mau? Liat paling depan?!..” kata Uriq ringas, padat, terpercaya. Gue langsung terpojok.
”tapi aku liat tadi kok kayaknya nggak sampai paling depan gitu?”
”emang beda, yang digambar ama yang aslinya! Kalo aslinya, kita bakalan paling depan!”
”iya Bud! Bener..” Ve yang dari tadi diem aja, tiba-tiba menyimpulkan.
Niat jorokin Ve dari lantai 3 muncul lagi.

Hufh!.. ya udahlah... lagian udah terlanjur dibeli kan? Cuma nunggu dua jam aja kok... apa salahnya juga nunggu dua jam?? Temen gue aja kalo mudik, nunggu bis di stasiun bisa ampe lima jam! Satpam aja, kalo nungguin tempat bisa ampe dua belas jam! Adek gue aja, kalo minggu nungguin tipi di rumah ampe seharian!.. eh, enggak ding! Itu mah nonton tipi.
Tapi nunggu dua jam sama sekali nggak ada artinya kalo dibandingkan itu semua.
Dan, berita baiknya, nggak akan menjadi lebih buruk dari ini.

”kemana nih sekarang?” tanya gue. Berusaha menyatukan tujuan.
”ya kita jalan-jalan aja..” kata Uriq.
Bener juga sih. Wajar kan, kalo kita nunggu dua jam sekalian jalan-jalan?
Kitapun mulai melangkahkan kaki kita bersama-sama mengitari mall ke arah yang sama, yang secara resmi kita sebut dengan ”jalan-jalan”. Semuanya berjalan normal, (untuk beberapa detik), hingga Ve ngomong, ”eh, aku lapeer!!.. ke Mak Yem yok!..”
Gue ama Uriq langsung shock.
”laper? tadi belom makan?” gue heran.
”belom.. kan tadi buru-buru kesini..” kata Ve, sambil berekspresi kayak orang laper beneran. ”ke Mak Yem yok!..”
”cari makan disini aja lho Ting!” kata Uriq, ngebujuk Ve supaya nggak ngotot ngajak ke Mak Yem.
” ke Mak Yem aja yok...”
“balik ke tempat kost dong..” kata gue, berusaha menekankan.
”iya.”
”cari di sini aja lho Ting..”
”tapi kalo nggak makan nasi nggak kenyang!!” kata Ve beralesan.
Ya iyalah! Nenek-nenek terjun dari lantai seratus juga tahu kalo nggak makan nasi itu nggak kenyang! Tapi masa, ngotot minta ke Mak Yem gitu?
Dan gue nggak nyangka, kalo dialog ini terjadi di dalam sebuah mall.
”jadi kita balik nih?” Uriq langsung ngalah dengan permintaan yang maha suci ini.
”cari makan disini aja lho... masak, kita udah nyampe sini balik?” gue berusaha menahan hasrat-ingin-ke-Mak-Yem-nya itu.
”iya Ting! Cari makan disini aja lho..” Uriq juga.

Akhirnya, meskipun sepertinya Ve nggak ikhlas dunia akhirat, meskipun Ve keliatannya cinta mati ama Mak Yem, Ve berhasil kita bujuk buat nggak kesana.
Berarti, (konsekuensi dari berhasil menahan Ve buat nggak ke Mak Yem) misi kita sekarang adalah nyariin makanan buat Ve!
Sekarang gue cabut perkataan gue tentang ini nggak akan jadi lebih buruk! Karena (acara mengunggu dua jam) ini sangat mungkin bisa jadi lebih buruk!!
Mungkin, setelah satu persoalan Ve yang ngajak ke Mak Yem, (dan puji tuhan kita berhasil melaluinya), kita akan dihadapkan satu masalah lagi dari Ve saat kita berusaha nyari makanan buat dia.
”tapi aku kan maunya pecel!!” sangat mungkin Ve berteriak kayak gitu.
Mungkin pada saat itu gue langsung nutup mulut Ve pake lakban, masukin ke tas kosongnya, lalu nitipin di tempat penitipan barang terdekat
Baru ambil lagi waktu mau pulang.

Character Info:
Mak Yem:
Tokoh yang (terpaksa) ikut muncul di cerita kali ini adalah seorang penjual nasi pecel di kawasan kost si Ve. Nggak hanya menjual nasi pecel, tapi juga menjual sayur lodeh dan terkadang rawon. Menurut prinsip ekonomi anak-anak kost, makanan di Mak Yem ini tergolong murah! Hanya dengan merogoh kocek lima ribu perak, kita sudah bisa menikmati nasi pecel yang dibungkus daun pisang ini. Dijamin, anda pasti puas dan kenyang!
(tunggu! Gue kok malah wisata kuliner gini?!)


Lanjut,
Kita bertiga muter-muter nyariin makanan buat Ve.
Rencana awalnya sih gitu. Tapi yang ada adalah, Gue ama Ve ngikutin Uriq yang lagi jalan-jalan, muter-muter liat kesana-kemari nggak jelas. Emang, ada-ada aja hal menarik yang ngebuat kita melakukan kegiatan ’ayo berhenti dan melihat’ di tiap tempat. Hampir berbagai hal kita liat. Ada toko buku, kita masuk. Ada toko sepatu, kita masuk. Ada kios komik, kita mampir. Untung aja acara tersebut nggak berubah jadi ’ayo berhenti, melihat, dan beli’.
Baru, beberapa menit kemudian, setelah muter-muter di seluruh lantai, kita nemuin stan Breadtalk dan mutusin berhenti disana. Uriq langsung masuk kesana. Sedangkan Gue ama Ve nunggu diluar. Kita berdiri sambil ngeliat-liat stan di samping kita.

”kenapa 20:45 ya?” gue coba me-review alasan kita tadi di sini.
”apa?... oh iya! Kenapa 20:45! Bukan 17:55 ya??” sepertinya Ve juga setuju dengan gue.
”iya.. sekarang kita malah jadi ikut nemenin shopping! Haha..”
”haha.. maklum, cewek!”
”eh, tau gitu seharusnya tadi kesini jam delapan aja..”
”maksudmu beli tiketnya jam delapan?”
”iya.”
”ya malah nggak dapat tiket Bud..”
”iya ya.. seharusnya gimana ya, enaknya?”
”seharusnya kita beli tiket dulu, baru pulang dulu tadi..”
”...”
Beberapa menit kemudian, Uriq, yang udah berwajah ceria, ada di depan kita dengan mambawa satu tas plastik hasil dari ke Breadtalk.


                                                                         ***
Akhirnya Ve makan dengan kenyang, kita nonton, lalu pulang dan hidup bahagia selamanya.
Itu adalah harapan gue. Tapi kayaknya itu nggak bakalan terjadi. Jangankan ’hidup bahagia selamanya’, pada tahap ’Ve makan dengan kenyang’ aja belom kita lewatin! Dan gue tahu, setelah tahap ini, ini masih lama. Sangat-sangat lama..

Kita bertiga kembali muter-muter lagi. (baca: masih aja muter-muter) Kalo tadi karena nyari makanan, sekarang malah bingung nyari tempat buat makan. Ternyata nyari tempat duduk yang nyaman itu nggak mudah. Nggak lama, setelah muter-muter, nyari-nyari, setelah seperti mustahil nyari tempat duduk di dalam mall yang enak buat makan, akhirnya kita nemuin tempat yang bagus.
Tapi, di luar mall.

”di sini aja lho!..” kata gue, saat nemuin tempat kosong yang pas buat duduk.
”kamu yakin di sini Bud?” Uriq keliatan agak cemas.
”halah! Di sini nggak apa-apa!”
”iya wes! Di sini aja lho!..” kata Ve singkat. Sepertinya dia juga udah capek muter-muter.
Kita udah berhenti di suatu sudut di luar mall.
Tapi yang belum gue ceritain adalah, kita berada di luar mall dimana keadaannya sepi banget. Beda banget dengan sisi luar depan mall yang awal kita masuk tadi. Sedikit sekali orang lalu lalang di sekitar sini. Yang ada cuman mobil yang lewat buat parkir dan satu-dua orang yang jalan kaki. Mungkin kita sedang ada di sebelah sisi luar mall yang masih dalam tahap renovasi. Banyak stan-stan di sisi luar yang masih belum terpakai. Beberapa kaca bagian luarnya diberi tanda ’x’ dengan menggunakan cat warna putih. Sebagian bahkan banyak yang ditutupi dinding-dinding yang terbuat dari seng. Ya. Banyak seng ini ngebuat semua yang terlihat dari luar cuman seng. Untuk beberapa saat, kita lupa kalo ini juga bagian dari sebuah mall.
Pikiran gue cuma satu! ini pasti tempat mangkal ato tempat tidurnya orang gila dan anak-anak jalanan yang ngamen dan ngemis di jalanan sekitar mall ini kalo malem! Pasti!
Iya.. bukan tanpa alesan gue ngomong kaya gitu! Gue sering liat di tipi, anak-anak jalanan dan orang gila selalu tidur di tempat nggak karuan kalo malem! Masih mending anak-anak pengamen yang tidurnya nyari tempat-tempat sepi dan tersembunyi. Nah kalo orang gila, dia bisa tidur di mana aja tuh! Nggak malu malah, meski dia tidurnya di tengah jalan. gawat banget kan?
Tapi gue diem. Takut aja, gitu ngomong kalo ini mungkin tempat tidurnya orang gila, mereka langsung berteriak histeris dan kabur-kesana-kemari gitu.
Nggak lucu kan? Niat mau nonton, eh malah harus lari-lari nenangin dua ekor temen yang panik karena tempat mereka makan yang diduga tempat mangkal orang gila.
”jadi makan di sini nih?” Uriq kaliatan masih ragu.
”iya!!... wong udah duduk gini!!..”
Akhirnya Uriq ngebuka plastik hasil dari Breadtalk itu. Kita bertiga akhirnya makan roti tersebut bergantian. Gak tau kenapa, gue langsung inget anak jalanan lagi. Entah karena tempat ini lagi, ato karena keadaan kita bertiga sekarang yang emang mirip.
Beberapa menit kita bertiga cerita kesana kemari nggak jelas di tempat itu.

”kau tahu, efek negatif saat setelah kita makan?” kata gue, setelah dua roti tak bersalah habis kita makan.
”apa? Haus?” Uriq hapal pertanyaan gue yang nggak penting itu
”yuph!”
”masih lama ya..” gue ngeliat hape gue. Masih jam tujuh kurang.
“ayo ke dalam aja!..” kata Uriq.
“ke dalam lagi? nanti capek lagi… duduk-duduk di sini aja.” kata gue, mencegah niatnya yang tulus tersebut. Gue capek kalo harus jalan lagi.
”tapi kalo di luar terus nanti aku lapar lagi. Mendingan ke dalam..”
”ngadem?”
”iya. Di sini panas..”
”di sini aja lho..” Ve sepertinya juga pengen istirahat.
”iya, duduk-duduk di sini aja lho..”
”ke dalam aja dong.. kita cari tempat duduk di dalam aja.”
Beberapa menit kemudian, kita baru sadar kalo ada stan KFC nggak jauh dari tempat kita duduk, yang di tutupi oleh dinding seng, yang menyebabkan tempat ini nggak terlihat dari luar.
”gimana kalo kita duduk-duduk disana?” kata Uriq.
”nggak beli gitu?” kata Gue.
”halah! Nggak papa lagi.. kita duduk aja di sana..”
Uriq langsung ke tempat itu. Akhirnya, mau nggak mau kita terpaksa ikut-ikutan bangkit dari tempat kita duduk. Waktu Uriq nyoba berkali-kali buka pintu kacanya yang ketutup itu, ternyata nggak bisa! Uriq langsung buru-buru balik waktu kita hampir sampai di tempat itu.
”eh, ada apa?” tanya Gue penasaran. Gue masih ngeliatin tempat itu.
”pintunya dikunci!” kata Uriq, sambil berusaha supaya nggak mendekati tempat itu.”pintu masuknya bukan dari sana!”
Gue mikir sejenak, lalu nggak butuh waktu lama sampai tahu apa yang sebenernya terjadi. Uriq masuk ke pintu yang salah. Itu bukan pintu masuknya. Ya, dia salah masuk! Gue langsung pengen ketawa.
”hahaha.. jadi salah masuk ya?”
”..iya! untung aja orang yang di dalam nggak ada yang liat!”
”hahahahaha!!...”
Waktu gue liat tempat itu, emang ada pintu kaca lagi di sisi satunya. Sisi yang berlawanan. Pintu yang terbuka dari sisi dalam mall. Dari sanalah para pembeli masuk untuk beli. Bukan dari pintu yang berusaha sekuat tenaga Uriq buka yang berada di luar ini tadi!
”hahaha!!...”
Akhirnya, kitapun nurut buat masuk lagi ke mall. Waktu kita belok dan ngelewatin stan KFC dari sisi yang bener, gue nyeletuk,
”tuh Ur, seharusnya kita masuknya tadi lewat sini!”
”udah! Jalan terus aja!”
”hahaha!!..”

Karena kita haus dan Ve masih lapar, kita bertiga masih aja muter-muter di dalam. Lupain misi awal kita yang pengen duduk-duduk di dalam. It’s never work!

”eh, beli crepes aja gimana?” kata Uriq, waktu ngeliat stan crepes di depannya.
”terserah wis!” gue pasrah.
”gimana Ting?”
“terserah aja..”
Nggak pake disuruh, Uriq langsung ngedatengin tempat crepes itu. Gue ama Ve masih sama. Berdiri aja sambil ngeliat-liat sekeliling. Satu menit kemudian, Uriq langsung dateng lagi dan ngajak nyari makanan lain. Gue ama Ve ngikut aja.
”eh, emangnya kenapa nggak jadi?” gue cengok, nggak tau ada apa.
”crepesnya mahal!”
”emang berapa?”
”sepuluh ribu! Sepertinya mereka tahu kalo kita kelaperan!”
”hahahahaha!!!..” gue lagi-lagi pengen ketawa. Baru kali ini gue denger kalo ada anak mau beli makanan di mall, terus balik lagi nggak jadi beli dengan alesan mahal. Ya iyalah mahal. Kalo pengen murah, coba belinya di sekolah SD setempat,.pasti murah tuh!! Namanya pun udah nggak ’CREPES’ lagi, tapi udah diganti dengan nama ’LEKER’. Beli lima ribu perak dapat sepuluh biji! Murah cuy!

Kita balik muter-muter lagi. Kita udah nggak tahu tujuan kita. Sebab kita mempunyai dua misi. Pertama, menghabiskan waktu ampe jam delapan. Kedua, nyari makanan dan minuman.
”bukannya tempat makanan tuh di lantai 3?” kata Gue, ngeliat pencarian makanan dan minuman ini nggak membuahkan hasil setelah puluh-puluh menit
”kok tahu?” kata Uriq.
Dalem ati gue berteriak,’ya Allah! Kenapa 20:45?! Bukan 17:55!! Kuatkanlah hambamu ini!!..’

Kita langsung naik ke lantai 3. Bener aja, nggak lama, kita langsung nemuin stan Mc.D disana.
”ah! Ini dia..” kata Ve, waktu kita ngeliat ternyata ada tempat duduk di depan tempat tersebut.


Conclusion:
Akhirnya kita berhenti disana. Setelah Uriq dan Ve beli chicken burger (gue nggak tahu apa namanya, yang jelas burger isi ayam) ama cokeflute (bener nggak tulisannya?) kita menghabiskan waktu dengan duduk-duduk dan cerita banyak disana. Mulai dari cerita makanan, film, ampe cerita horor!!(haha! Uriq sangat takut cerita horror ato thriller).
Kemudian 30 menit sebelum film dimulai., kita nunggu di studionya. (setelah sebelumnya mampir di toko kaset dan ngeliat-liat DVD-DVD film) di sini Gue ama Ve sempet cerita banyak, sampe akhirnya salah satu petugasnya bilang ke kita berdua,
”mas, nggak boleh duduk lantai ya...”




Baca Lanjutannya Ahh..

-Uriq's terror!!..-

Author: -boot_d- // Category:

(jumat 17 juli 2009)



Hai-hai….

Udah lama banget ya, gue nggak ngepost di blog ini. Aggh!!... gue udah kayak mau meledak aja!!..
(time bomb activated!)


Balik lagi.
Eh pernah nggak dalam hidup kalian, tiba-tiba muncul seseorang yang ngerasa udah banyak tahu hidup kalian, dan mulai meneror hidup kalian?

Akhir-akhir ini gue ngerasa ngalamin hal itu..
Ini mirip banget dengan cerita film thriller I Know What You Did Last Summer! (kalian pernah ngeliat film ini kan?)
Dimana sang tokoh utama ngerasa dikejar-kejar seseorang misterius yang mengetahui rahasia tentang apa yang udah dilakuin sang tokoh utama dan beberapa temannya dan terus meneror mereka hingga mereka satu persatu mati.
Ya. ini mirip banget dengan film itu. Cuma disini, gue nggak pernah ngelakuin kejahatan sama sekali dan nggak ada adegan karakter misterius yang suka jalan di tempat gelap ngejar-ngejar gue sambil bawa-bawa pisau!
(percayalah teman, itu cuma ada di film! Kalopun ada yang ngejar-ngejar, paling mentok itu abang tukang kredit yang nyatronin rumah buat nyari nyokap kamu tiap minggu!)

....
Ya. gue ngerasa diteror!
Dan teroris itu adalah si Uriq, temen gue yang sekarang satu divisi ama gue.
(tapi jangan bayangin, kalo dia berwajah serem dan suka ngejar gue kemana-mana sambil bawa-bawa pisau!)


Seperti yang udah gue posting sebelumnya, Uriq udah baca banyak postingan blog gue! Mungkin kalo cuma baca, itu hal yang sangat wajar.
Sama kayak temen-temen, dosen gue, bokap gue (ini beneran!), dan orang-orang disekitar gue yang udah baca blog gue ini. Biasanya, setelah mereka baca, ya Udah! Paling mentok mereka nunggu posting gue selanjutya, ngoment ato cuma ngasih saran dan semangat buat nggak berhenti nulis.
(sebenernya sih berharap ada yang ngasih support secara materi buat ngurus blog ini!! hehe.. ngarep mode: ON!)
...
Tapi yang aneh adalah, kayaknya dia sangat tertarik dengan apa yang udah gue tulis, hingga dia baca hampir semua posting di blog ini. Aneh kan?
(apa kalian juga gitu?)

Malah,, you know what?, kemaren dia sempet nyalahin blog gue sebagai penyebab dia mengalami UP (Ujian Perbaikan) pada UAS-nya..

”iya Ting! Mungkin gara-gara blognya Budi ini, aku ngalamin UP!”
...
”bayangin tah! Masak, dimalam seharusnya aku belajar, aku malah baca blognya! Dan aku terus-terusan baca! Terus-terusan lihat posting sebelumnya, lihat posting sebelumnya gitu.. lak ya aku jadi nggak belajar seh!..”
(dikutip langsung dari sumber terpercaya a.k.a Uriq sendiri!)
...
....

What the...?!
(ini bener-bener aneh..)
...
Sejak kapan blog gue jadi penyebab seseorang NGGAK LULUS UJIAN?!!

...
Mari kita pikir sama-sama..
Salah siapa coba, kalo seseorang ampe nggak lulus ujian karena semalam nggak belajar?! Salah siapa coba, baca blog gue di saat-saat ujian?!
Salah siapa coba, nulis hal-hal nggak penting di dalam blog??
(oke! Kalo yang terakhir, emang salah gue!..)

Tapi aneh kan?
Menyalahkan sebuah blog atas kesalahan yang dilakukan sendiri?
Gue bayangin, kalo sekarang seseorang bisa menyalahkan blog gue sebagai penyebab dia nggak lulus ujian, bukan nggak mungkin kalo suatu saat nanti terjadi fenomena seluruh pelajar di Indonesia nggak lulus ujian nasional, dan pemerintah nyalahin blog gue sebagai penyebab semakin merosotnya akhlak dan mental pelajar di negeri ini!
Dan pemerintah mulai memblokir blog ini, karena dianggap sebagai penyebab utama dari semua kemunduran akal masyarakat kita dan meningkatnya kejahatan di negeri ini!

-_-”. . .
(*mulai berpikir efek negatif dari blog ini)


...
Oke! Balik lagi.
Karena Uriq sekarang satu divisi ama gue, maka, mau nggak mau gue jadi sering ketemu ama dia.
Inilah awal dari teror itu!

Ternyata dia punya hobi baru, yaitu me-repeat apa yang udah dia baca di blog ini ke gue dengan nada yang seolah-olah bilang ”gue tahu semua tentang lo! Berhati-hatilah!...”, kalo ada-kejadian-kejadian yang mirip dengan apa yang udah dia baca, waktu kita ketemu atopun kumpul.

Contohnya ini:
Lokasi di kantin. Kumpul anak satu divisi PSDM, bahas proker (program kerja).
....
Gue : oh.. jadi kebagian pelatihan internal..
Uriq : iya! Kalo Ve kebagian pelatihan eksernal, kalo aku workshop.
Gue : lho, kemaren yang datang siapa aja?
Uriq : Cuma tiga anak aja. Aku, Ve, ama Ajeng..
Ve : iya Bud! Banyak yang nggak dateng.
*tiba tiba muncul seekor kucing warna oranye jalan lewat dibawah meja..
Gue : ck-ck-ck!.. (berusaha memanggil kucing tersebut) wah! Kucing ini bagus ya… bulunya cerah! Aku juga punya kucing kayak gini di rumah. Mirip banget!..
Uriq : kucingku jangan bertengkar!!
Gue : (terkejut. Langsung noleh ke Uriq. Gue tahu betul, itu adalah salah satu judul postingan gue) ...
Uriq : aku udah baca Bud! Hehe..
Gue : eh! Udah baca sampe mana?
Uriq : banyak pokoknya!..
Gue : aggh!!.... (*nurani mulai terganggu)



Contoh lagi, ini:
Lokasi di ATM di gerbang kampus. Gue, Andhika, Uriq, ama Ve pesen bakso.
...
Gue: eh, itu lho! Ada yang mau ditambah lupis gak?
Andhika + Ve + Uriq : ??? lupis?
Gue : itu lho!..
Andhika : oalah!!.. lontong tah!
Andhika + Ve + Uriq + gue : hahahahhaa!!...
Ve : ada-ada aja..
Uriq : eh, kalo pake lontong jadi berapa?
Gue : lho? Kamu nggak pernah beli di sini tah?
Uriq : enggak.
Gue : kalo pake lontong tuh, nambah seribu!..
Uriq : oh iya! Aku udah baca Bud! ...apa kalian tahu? kalo pake lontong tuh nambah seribu!!.. ..dengan bijak gue berkata, Pak, bakso satu Pak! Pake lontong ya..
(ini adalah salah satu cuplikan tulisan gue di post Dedik’s Birthday!)
Gue : Grrr!!.... (*nurani makin terganggu)
Uriq : hehe..



Ini juga:
Lokasi di gedung D4. rapat besar. Bahas proker tiap divisi.
...
(divisi kominfo bahas prokernya tentang radio)
Gue : iya. Radionya masih morat-marit! Nggak keurus!
Ve : …
Uriq : aku tahu! Aku tahu! Yang itu ...test!-test!... lalu gue mulai menyadari sebuah kesalahan.. kesalahan yang besar… dari tadi semua yang kita omongin tuh ON-AIR!!
(cuplikan tulisan gue di post Huru-hara Radio EOS!)
Gue : AGHH!!... tidak..
(*mulai pengen bunuh diri)


Lagi:
Lokasi di tempat kost Ve. Uriq datang buat minta data file.
...
Gue : iya. Kalo aku dulu waktu nggak sama Arif, aku bisa bangun pagi. Sekarang jadi nggak bisa. Butuh waktu kayaknya buat bisa bangun pagi lagi..
Uriq : ... dan Arif adalah sebuah keajaiban, kalo bisa datang jam 7 tepat! biasanya
Dia nongol jam 7 lebih...
(cuplikan tulisan gue juga)
Gue : eh! Kamu udah baca sampe mana aja sih?!
Uriq : banyak Bud!... lalu, ...ditanyain dosen, mengapa belakangan ini sering telat. Dan makin jarang mandi....
(ini juga)
Gue : Agshh!!... (*mulai migrain sebelah dan masih pengen bunuh diri)
Uriq : hehehe...

...
Dan masih banyak lagi teror-teror yang dia repeat dari tulisan gue tiap nemuin moment yang tepat, yang nggak bisa gue sebutin semuanya di sini..
Gue tahu, kalo respon tiap orang tuh berbeda. Tapi gue nggak nyangka, kalo respon tiap orang yang udah baca blog ini berbeda sampai se-ekstrim ini.
Dan respon dari dia adalah yang paling ekstrim!!..
...


Tapi ya udah lah!!.. every moment has it time!
Semua ada waktunya..
Entar paling juga berhenti sendiri.. (moga-moga aja.. T_T)
(gue takutnya, gue malah kangen saat-saat kayak gini saat semua udah nggak terjadi lagi!.. aneh kan?)
.....

........

.............




BONUS:

Oke! Karena gue nggak mau nge-deskribe seseorang dari satu sisi aja, kali ini gue akan ngereview si Uriq secara keseluruhan (dari sudut pandang gue tentunya..).

Ternyata Uriq ini cewek yang ’Unik’!!
...

Awal-awal gue ketemu ama nih anak, gue ngiranya dia bakal kayak cewek-cewek biasanya. But You know what, orang aneh sanggup merasakan kehadiran orang aneh lainnya.. seiring waktu, karena sering kumpul dan ketemu (terpaksa, abis satu divisi sih..) satu persatu kelebihannya terkuak. Kalo gue sebutin satu persatu kamu mungkin sulit nangkepnya, tapi secara keseluruhan,

she is special!..


Waktu gue nyadar siapa dia yang sebenarnya, gue koment ke diri gue,,
”ternyata masih ada ya, anak yang kayak gini.. ternyata gue nggak sendirian di dunia ini..”

Ya. anak ini mirip gue. Dia juga punya daya khayal yang tinggi. Tiap gue ngejelasin sesuatu yang diluar normal, yang biasanya orang lain nggak nangkep maksudnya, anak ini langsung ngerti tanpa gue ngejelasin lebih lanjut.

Banyak juga, hal-hal yang menarik perhatian gue, yang ternyata juga menarik perhatiannya..(tapi banyak juga sih, perbedaannya! Hahha!!..)

Gila!... apa selama ini perjalanan hidup anak ini mirip dengan gue? Gue nggak bisa mastiin itu. Yang jelas gue terakhir bicara ama diri gue,

”mungkin kalo anak ini, dia bisa ngerti.. ”


Banyak sekali sebenernya, pertanyaan yang pengen gue tanyain ke dia..

Buat mengenal dia lebih jauh....

dan mengukur, sampai dimana dia mengerti...

(tuh kan? Gue takutnya malah ngangenin saat-saat kayak gini...)

hufh!!...

udah ah!!....



(btw, dia baca post ini nggak ya??... )

Baca Lanjutannya Ahh..

-BNS(Bag:2) cold night!!...-

Author: -boot_d- // Category:
Lanjutan dari posting -BNS tragedy…!!!(bag:1)-
Lihat posting sebelumnya.

...
....
Kita semua udah jalan cepet banget. Ternyata keadaan jalan yang lenggang membuat jiwa pembalap anak-anak bangkit. Kita udah dalam keadaan saling kejar-kejaran. Kalo kamu pernah liat iklan motor dengan komeng yang naik motor super-cepat dengan baju sobek-sobek dan bibir memble kesana-kemari nggak karuan karena jalan yang terlalu cepat, itu mirip banget dengan ini. Bedanya, baju kita nggak sobek-sobek! Dan kita bukan komeng!
Berkali-kali kita gantian ada pada posisi paling depan.
(jangan lakukan ini di rumah! Adegan ini dilakukan oleh para ahli!)
Selain karena nggak mau ketinggalan dan berakibat pada salah jalan,(baca: nyasar secara abnormal) kita juga tertantang buat ngebuktiin, siapa bos yang sebenarnya. Secara nggak sadar, kita udah tersugesti bahwa yang tercepat dalam perjalanan ini bakal dianggap raja bos jalanan. Kita mungkin udah nganggep kalo perjalanan ini adalah tes mental dan nyali.
Baru deh, kalo ada yang nyungsep kita bakal kompak berpesan pada orang yang paling cepet itu,
”makanya jangan sok!... sarap!!”

Balik lagi ke masalah ’nyungsep’. Bayangan kalo motor si Ririn membawa kutukan menggeliat indah di pikiran gue. Gue takut aja kalo ini bakal jadi kayak pilem Final Destination. Dimana kita bakalan nyungsep secara bergantian sesuai urutan ramalan kutukan yang ada pada motor itu. Setelah Ririn, lalu gue. Bukan nggak mungkin kalo bentar lagi Yoni bakal secara dengan paksa minta tukeran motor ama gue, lalu beberapa menit kemudian dia dengan sukses nyungsep kayak kita berdua. Lalu perlahan-lahan dia berubah jadi kurus. (tanpa alasan yang jelas)
”Bud! Duingin ya...” tiba-tiba aja Sisil yang dari tadi duduk manis dibelakang gue ngomong ke gue, ngerusak semua bayangan gue tentang Yoni yang kena mukjizat jadi kurus. Gue juga baru nyadar, kalo udara emang bertambah dingin secara sangat drastis.

”iya ya..” gue jawab sekenanya. Gue masih fokus buat nyetir cepet, biar nggak ketinggalan ama anak-anak yang masih aja nyetir kesetanan di depan.
”nggak bawa jaket lagi!..”
”hah?... Nggak bawa jaket??” gue shock.
”iya.”
”beneran?” Gue ngeliat kaca spion. Bener! Dia cuma make baju lengan panjang. Teryata dia dari berangkat tadi nggak make jaket!
“iya!”
“kenapa juga nggak bawa jaket?”
“lupa.”
“Lupa?!”
“iya. Lupa.”
Great! Pergi ke daerah pegunungan dan nggak bawa jaket. Suatu kombinasi yang sempurna! Padahal dimana-mana, orang juga tahu kalo gunung tuh cuacanya dingin. Kenapa juga gak bawa jaket? Trus, kalopun nggak pergi ke daerah dingin, ini kan perjalanan naek motor! Bukan mobil! (Dan jauh!) Kok bisa, GAK BAWA JAKET?!! Bisa bayangin, kalo perjalanan siang bolong, dan cuaca super panas? Apa dia nggak bakalan jadi dendeng kering coba? Dan dalam waktu singkat, radiasi panas yang diperkirakan sanggup melelehkan kutub utara dalam waktu satu menit itu merubah dia menjadi keturunan suku ugla-huba-cihuahua di negara Zimbabwe!
(bagi yang bener-bener percaya suku ini, maaf! Suku ini cuma karangan absurd gue aja)
Apalagi kalo cuaca yang super dingin kayak gini?! Gue langsung aja ngira, kalo selama setahunan ini dia nggak pernah keluar dari kamar kost-nya.
Dan bukan nggak mungkin, kalo suatu saat dia diajak pergi lagi, dia bakalan ngomong,
’Bud, aku nggak bawa dompet..’
”kamu pake jaketku tah?” gue nyoba nawarin jaket gue (yang lecek itu). Gue merapat ke kiri, siap-siap berhenti.
”nggak usah wes!” ujar Sisil mantap. Dia nolak. Kayaknya dia lebih khawatir dengan kemungkinan tertular bau badan permanen daripada udara yang-super-dingin ini.
”beneran? Udaranya dingin lho!..”
” udah, nggak pa-pa wes! Aku kuat kok!”
”ya wes kalo gitu..”
Gue ngebut. Para setan itu udah jauh di depan.


                                                                    ***
Udara dingin semakin menggila. Gue yang nyetir di depan udah kayak fosil beku. Ternyata memakai jaket nggak membawa pengaruh sama sekali dalam menjaga panas tubuh kita. Mulut gue secara refleks menggigil. Gigi gue beradu. Mulut berbusa. Tanda-tanda epilepsi muncul. Dompet menipis.
Aneh! Gue nggak biasanya ampe menggigil gini kalo kedinginan. Kecuali kalo lagi demam. Ini menandakan, kalo kita emang udah nyampe daerah pegunungan. But it’s not The biggest trouble. Karena yang terparah adalah.... kaki kanan gue makin sakit!!
Berkali-kali gue megangin pake tangan. Dan makin sakit! ”Aghh!!!...”
mungkin kaki gue butuh pertolongan ekstra! Dan segera! (Untung aja, selama satu jam lebih ini gue kegiatannya cuma nyetir di motor. Karena gue nggak yakin bisa jalan lagi kalo nanti udah nyampe)
Sementara itu, Sisil yang ngeliatin gue menggigil sambil megangin kaki sempet khawatir.
”Bud? Kamu nggak pa-pa kan? Kamu masih kuat kan?” dia bertanya dengan nada khawatir. Sangat khawatir.
Dia sangat khawatir dengan keselamatan jiwanya.

Sementara itu, waktu gue menyalip si Yoni, yang terus-terusan ngebut secara nggak terkendali, terlihat Ailin di belakangnya komat-kamit secara serius dan terus-menerus sambil nutup mata. Mungkin semua ayat suci udah dia baca.
Gue kasihan, keselamatan jiwanya lebih terancam daripada Sisil.
Semoga dia selamat.
...


(sekitar pukul 19:30)
Kita udah nyampe di daerah Batu. Itu terlihat dari suhu daerahnya, (yang terasa banget kalo itu emang suhu kota Batu) dari bentuk-bentuk rumahnya, bentuk orang-orangnya, (???) dan sebuah papan kotak besar penunjuk jalan berwarna ijo yang bertuliskan dengan jelas: BATU.
Jalanan agak lenggang, nggak serame waktu kita berangkat awal-awal tadi. Banyak lampu berwarna-warni di sepanjang jalan. Mulai terlihat banyak spanduk bertuliskan ’BNS’ dengan background warna hitam di sebelah kiri jalan.

...
”gimana? Nggak langsung kesana?” anak-anak saling nanya. Keliatannya mereka bingung, kenapa mereka menepi. Padahal di depan mereka udah banyak spanduk BNS dengan isi tulisan Batu Night Spektakuler beserta arah tempat lokasinya.
”iya! Kenapa berhenti? Nggak langsung kesana?”
”bentar-bentar!..” Ucik ngejawab.
”Nunggu apa?”
”BENTAR!!.. kita mau cari tempat penginepan buat anak-anak!!” Ucik langsung bicara tegas. Setegas waktu narik uang kas ke gue tiap bulannya, ”Bayar 15000! Kamu dobel tiga!!... DAN JANGAN KABUR LAGI!!”
”penginepan?” gue heran. Lebih tepatnya, nggak tahu.
”iya, buat kita nginep.”
”emang kita pake nginep ya?” gue malah nanya lagi dengan dodolnya. Gue bener-bener nggak tahu kalo rencananya kita pake nginep segala. Gue kira sih rencananya adalah; kita berangkat, jalan-jalan sampe malam, lalu subuh kita langsung balik dan pulang dengan selamat!
”iyalah... kasihan yang cewek-cewek..”
”kenapa nggak tidur di masjid aja?” kata-kata brilian itu langsung keluar dari mulut Yoga.
Bagus! Ternyata pengalaman Yoga dalam berpetualang di berbagai penjuru kota selama ini menghasilkan sebuah kesimpulan yang brilian: TIDUR DI MASJID!!. Dengan begitu kita nggak usah ribut-ribut lagi cari penginepan! Setelah capek jalan-jalan, tinggal cari masjid, lalu tidur! Simpel ternyata! Beres! Terlebih lagi,GRATIS!
Emang dia sering banget pergi keluar kota. Dan untuk masalah bertahan hidup saat keluar kota, nggak ada yang perlu diragukan. Jadi nggak ada salahnya kan, kalo ngikut saran Yoga? (jadi selama ini, Yoga kalo pergi keluar kota hidup secara menggelandang ya?!)
”kamu kan cowok! kasihan yang cewek lho, nanti kedinginan! Kalo aku sih nggak masalah tidur dimana aja! Tapi kasihan yang cewek yang bener-bener butuh tempat tidur!” kali ini Ucik ngomong seolah-olah dia bukan cewek.
”harus sekarang ya?” gue kembali nanya.
”??? Maksudnya?”
”gimana kalo nanti aja, setelah ke BNS! Katanya kan tutupnya jam sebelas malam”
”iya! Gimana kalo nanti aja! Sekarang lho hampir jam delapan!” beberapa anak nambahin. Kayaknya mereka juga ada yang nggak sabaran kayak gue. Mereka sepertinya juga terpengaruh spanduk-spanduk BNS yang ada di sekeliling mereka. Kita udah kayak anak kecil yang diajak ke pasar malam, yang di depannya udah tersedia wahana mandi bola yang ramai anak maen, tapi nyokapnya masih aja bilang, ”nunggu ayahmu gajian ya!.... sekarang liat mereka maen dulu!”
”justru sulit, kalo nyari penginepannya nanti! Pokoknya sekarang aja. Baru kalo udah dapet, kita kesana!”
...
Kitapun akhirnya nyari penginepan dulu. Emang bener, kalo nyari penginepannya nanti, malah makin sulit buat nyari. Kalopun ada, pasti yang tersisa adalah penginepan mahal aja. Macam kayak hotel-hotel yang ada restorannya gitu mungkin. Kita nggak mungkin nginep disana.
Selang beberapa menit, setelah kita mengirim 2 buah motor yang berisi 4 ekor anak buat nyari, (setelah berkali-kali nyari bareng dan nggak ketemu-ketemu, dan ternyata kita nggak kuat dengan suhunya yang superdingin itu, akhirnya sebagian anak mutusin buat istirahat aja) kita nemuin satu hotel. Ehm...... tapi kalo gue bilang sih, ini bukan hotel! Ini cuma rumah sederhana kayak penginepan biasa aja. Tapi entah kenapa, mereka kok demen banget namain tempat mereka itu hotel. Tempatnya kecil. Tempat buat parkir motornya kecil juga. Tapi tempat ini tingkat dua.
Setelah Ucik serta beberapa anak bernegosiasi dan deal tentang harga kamar disana, kita semuapun naik keatas buat masuk kamar kita. Kita berniat nyewa dua kamar, satu buat kamar cewek, satu buat cowok.
Ya. itu rencananya.

                                                                     ***
Sang pemilik penginepan langsung bukain dua kamar. Dua kamar ini saling berhadap-hadapan. Kita langsung masuk buat ngecek isi kamar itu. Ternyata lumayan juga. Kamarnya nggak terlalu kecil. Ada 1 kasur disana.Anak-anakpun langsung nyaman disana. Bahkan beberapa anak cowok yang udah ngelepas sepatu mereka dan tiduran di kasur kamar itu. Sementara gue berdiri di luar kamar. Kaki gue rasanya masih sakit.
...
Kesialan ke-empat pun terjadi.
Saat Ucik kembali mastiin harga buat dua kamar yang udah dibuka itu, dan terjadi lagi proses dialog dengan sang pemilik penginepan, ternyata terjadi kesalah-pahaman.
”lho?! Kalo anak segini ya, minimal nyewa empat kamar! Nggak bisa, kalo nyewa dua kamar dengan anak segini banyak!”
”masak nggak boleh pak?” tanya Ucik agak memelas.”kita memang mau pesan dua kamar.”
”kalo pesan empat kamar boleh. Jadi perkamar isi tiga anak. Kalo satu kamar isi enam anak gini ya nggak boleh! Aturannya kan per kamar isi dua anak. Masak, satu kamar diisi banyak anak gini!”
...
Hah!!...
Watga! Watga! Ternyata kita nggak bisa (baca: nggak boleh) pesan 2 kamar!!
Oh my gosh!!..
Gue baru tahu, kalo ada aturan perkamar tuh cuma boleh diisi 2 anak aja. Apa ini serius? Ato cuma becanda?
Tapi kalo ini beneran serius, mungkin baru kita aja ya, yang datang kesini ber-dua-belas-anak dan cuma mesen dua kamar aja. Pasti sang pemilik penginapan ngerasa dikerjai ama kita-kita, waktu tahu kita berniat cuma pesen dua kamar aja! Mungkin ini jadi wajar dan masuk akal, kalo kita kemudian bilang padanya kalo dia baru aja dikerjai ama kita-kita dan baru saja masuk sebuah acara TV Reality Show, yang dimana isi acaranya emang bagaimana sekelompok anak abnormal ngerjai seseorang hingga orang itu ngerasa pengen bunuh diri di tempat. Tapi sayangnya bukan.
Wajar juga sih, kalo kita nggak diperbolehkan pesen dua kamar aja. Kalo gue jadi pemilik penginepan ini juga pasti ngerasa khawatir, bahkan mungkin ngerasa terancam, kalo tiap kamar miliknya diisi 6 ekor anak yang lebih mirip mamalia berbulu hasil mutasi, yang aturan dalam menyewa kamar aja nggak tahu! Bagaimana nasip kamar-kamar itu coba?!
Ya mau gimana lagi, kita kan emang cuma mau menginap semalam aja. Masak harus nyewa empat kamar?!
Akhirnya, mau-mau nggak mau, dikarenakan sang pemilik penginepan dan kita nggak ada kata sepakat, kitapun pergi dari sana. Kita nggak jadi nginep.
Semua anak keluar dari kamar. Anak-anak cowok yang udah tidur-tiduran di kasurpun bangun. Kita semua sepakat pergi dari sini.
Tanpa mengucapkan sepata katapun, (karena malu), kita meninggalkan penginepan yang secara paksa dinamai hotel itu.
...

                                                                     ***
Setelah muter-muter, kita nemuin ’hotel yang sebenernya penginepan’ lagi. Kita udah kayak nemuin oase di gurun pasir yang tandus, dan gersang, yang dimana udah nggak ada satupun tumbuhan ato hewan yang hidup disana.
Oke! Belajar dari pengalaman, kita mencoba buat nggak ngelakuin kesalahan yang sama (lagi). Kita udah tahu aturannya:
1. Sejak awal kita harus bilang, kalo kita emang cuma mau mesen 2 kamar aja. (bukan 2,5 ato 3 kamar)
2. Pastikan mereka tahu berapa jumlah kita yang mau menginap dalam 2 kamar itu.
3. untuk memperlancar rencana, untuk sementara kita harus berpura-pura sehat akal dan mental.
4. Jika gagal dan mereka nggak setuju, kembali amoral lagi dan kabur secepat-cepatnya.
5. cari tempat lagi dan ulangi langkah 1.

...
(beberapa menit kemudian..)
Ternyata beres! Kita jadi menginap di tempat (yang juga bernama hotel) itu. Sekali lagi, Ucik yang ngurusin urusan administrasinya. Ternyata nggak percuma dia jadi bendahara kelas selama ini! Karena melalui sebagai bendahara inilah, dia terlatih untuk ngadepin orang-orang yang sulit diatur.(kayak gue misalnya). Perlahan-lahan dia membangun karakternya yang tegas, simpel, dan MENAKUTKAN! Nggak seorangpun berani ngelawan kalo di kelas gue. Karena begitu salah satu dari kita mulai melakukan tindakan mencurigakan, dia pasti akan mengeluarkan mantra andalannya,
”EH, KAMU! KAS-MU KURANG SEPULUH RIBU!!.. CEPET BAYAR!”
Entah apa yang udah dia lakuin pada orang disana, sehingga dia mengijinkan kami yang-ber-dua-belas-ini menginap. Gue dan beberapa anak lainnya emang dari tadi cuma nungguin aja diluar. Gue takutnya dia tadi nggak bilang, kalo yang mesen dua kamar itu berjumlah dua belas orang!
Hufh!.. Semoga aja dia udah bilang. Bukan tidak mungkin kan, tadi Ucik mengatakan hal-hal yang menakutkan kapada pemilik tempat ini agar kita diperbolehkan menginap, kayak misalnya,, (dialog versi gue..)
”Pak, ini darurat!! Temen kami yang disana, yang 5 orang itu, terserang virus H1N1 seketika saat dalam perjalanan! Mereka tadi nggak sengaja nginjek 5 kucing bersamaan di jalan! Dan sekarang mereka langsung terjangkit virus flu babi seketika! (btw, kenapa juga nggak sengaja kok, nggak sengaja nginjek kucing?) Sekarang keadaan mereka semakin memburuk pak! Kami butuh 2 kamar sekarang juga agar kami bisa mengobatinya!! 2 KAMAR PAK!!.... 2 KAMAR!!!”
”hah? H1...apa?”
”H1N1! Virus flu babi!! Cepat pak! Ini darurat!! Kalo kami nggak secepatnya, bisa-bisa.. ”
”oalah!..”
”ya pak! Ini flu babi!! Ini gawat sekali!! ijinkan kami..”
”flu.. Ya langsung beli obat toh?”
”pak! Tolong!! Cep.. apa?!”
”langsung kasih obat. Flu kan?”
”heh??.... Obat??.. ”
”iya.. istirahat sebentar juga pasti langsung sembuh!”
” ini FLU... BA.... eh, pak! nggak pernah nonton tipi ya?”
”nggak suka nonton tipi!..”
”....”
”Lagian yang punya penginepan disana Non! Bukan bapak. Bapak cuma tukang bersih-bersih disini...”
”.....”

Pasti bukan gini! Mana mungkin Ucik ampe beralesan flu babi segala?! Ngaco!
Ya udahlah! Yang penting semuanya beres..
...

                                                                    ***
(sekitar pukul 20:45)
Kita nyampe BNS.
Oke! Ini review gue tentang BNS:
Ternyata daya tarik utama dari BNS adalah wahana Lampionnya. Wahana ini penuh dengan obyek-obyek lampion yang berbentuk macem-macem, yang menyala warna-warni indah sekali. Kalo masuk ke BNS aja kita cuma perlu ngeluarin 5000 perak, kita udah bisa jalan-jalan disana. Tapi untuk masuk ke wahana Lampionnya, kita diharuskan bayar 7500! it’s genius marketing strategy! Why I say that? Orang nggak mungkin masuk kesana, lalu cuma jalan-jalan aja, dan menyia-nyiakan momen berharga dengan tidak masuk ke wahana ini. emang sih, banyak wahana yang bisa dipilih disana selain Lampion. Mulai dari wahana rumah hantu, Gokart, rumah kaca, trus alat-permainan-yang-bisa-kita-naikin-yang-muter-muterin-kita-nggak-jelas-keatas-kebawah-yang-bisa-buat-kita-muntah-dan-pusing-yang-gue-lupa-namanya-apa-itu, game centre and food courd, sinema 4D, dan lain-lain. But we are know, Lampion is the point of this all! Again, it’s genius marketing strategy!

Oke! Balik cerita lagi. Selama kurang lebih dua jam kita muter-muter di wahana Lampion tersebut. Lagi-lagi, alasan kenapa Nabila, Galang, dan Wisnu bawa kamera kembali terungkap; kita foto-foto abis-abisan disana. Ya. Sejak awal, tujuan kita emang foto-foto disana. Dan lampion-lampion di wahana ini menjadi sasaran empuk buat kita semua. Banyak banget lampion yang lucu-lucu dan warna-warni, yang sayang banget buat dilewatin buat tidak difoto meskipun cuma sekali.
Dan untungnya, tak ada satupun kesialan terjadi saat kita di sini. Nggak percuma kita ngalamin kejadian nggak menyenangkan sejak siang tadi, setelah tahu bahwa wahana Lampion ini seru banget!!.. You must visit to this place! (gue kok malah jadi promosi?)

                                                                  The End



Kalo kamu ngerasa cerita ini kerasa diputus gitu aja, berarti kalian lumayan ngerti.
Coz in fact, this is uncomplete story! Coz after this, still happen unfortunately event! (still about twelve children and about the place that they has lodge.)

If you still want to know more about sequel of this story, you can comment on this post!
May I would post on next time..
^-^\/





Baca Lanjutannya Ahh..

-BNS tragedy...!!(bag:1)-

Author: -boot_d- // Category:

(rabu 13 juli 2009)



Hai-hai…

Ada yang pernah pergi keluar kota? Ato lebih tepatnya pergi beramai-ramai keluar kota dengan temen sekelas(nggak jelas) kalian?
Apa yang akan terjadi dalam perjalanan di sana?
.....

Senin kemaren gue ama beberapa ekor mamalia berbulu (baca:MMB Rangers/ temen sekelas gue) pergi ke kota Batu.
....
Kita emang sejak sabtu kemaren udah berencana buat ke kesana.
Lebih tepatnya ke BNS!
Lebih tepatnya kita berencana buat ke tempat wisata yang namanya BNS!!..
Ya!!... B!.... N!... S!.. (terlalu bersemangat) -_-”
BNS tuh apaan? Kamu pasti tanya itu.
Jangan tanya gue! Gue sendiri nggak tahu BNS tuh tempat yang kayak gimana! Awal-awal waktu gue denger kata ’BNS’ dari mereka, gue malah ngaco. Gue ngira itu sama aja kayak BNI, BCA, BII dan lain.lain.
BNS. Bank Negeri Surabaya. Itu bayangan gue waktu itu. Sebuah bank.
heh? kita mau ke bank??
Beneran?’
Ngaco emang, masak pergi kok ke Bank?
Ini tamasya apa mau ngerampok?


Batu Night Spektakuler. Ternyata jauh dari bayangan gue.
Sesuai dengan namanya, tempat ini buka di siang hari. Eh, ya enggak lah! Tempat ini bukanya malam hari. Katanya sih, tempat ini masih baru. Banyak tempat-tempat seru yang bagus buat foto-foto disana.
(you know what, setelah mereka jelasin kepanjangannya, gue masih aja ngaco! Bayangan gue tentang Batu Night Spektakuler adalah tempat wisata dimana ada sebuah batu ajaib yang bisa menyala dengan keren kalo udah malam!)
...

Mereka-pun semua udah siap berangkat.
Inilah susunannya: Arif ama Mayang. Yoni ama Ailin. Galang ama Nabila. Yoga ama Sisil. Ucik ama Ririn. Badut lucu ama pasukan drumband TK Widyatama.
Dan seperti kata pepatah, setiap ada keinginan disitu ada jalan, di setiap perjalanan disitu ada kesialan.
Masalah yang pertama kali muncul (yang harus mereka emban) adalah kendaraan buat gue! Gue nggak mungkin bawa vespa gue buat pergi. Boro-boro nyampe kesana, kendaraan (hasil evolusi dari mesin pembajak sawah bertenaga uap) itu bisa buat nganterin gue ke kampus tiap hari aja udah untung.
Gue tahu banget, kutukan ban bocor di vespa gue itu masih ada. Yang dimana gue bisa kena ban bocor dimana aja, kapan aja! (sampai kapanpun juga!)
Dan kata-kata terakhir yang diucapin tukang tambal ban yang terakhir gue temuin adalah,
”Mas! Lebih baik beli ban baru aja!!...”
....

”eh, gimana nih? Budi berangkat ama siapa?” ada yang ngerasa khawatir ama gue.
”gimana kalo ama Wisnu aja? Mana si Wisnu?” Yang lainnya juga gitu. Gue nggak nyangka kalo jiwa persahabatan mereka begitu kuat. Nggak percuma gue punya temen kayak mereka.
Gue baru aja nyangka dari gelagat mereka, kalo mereka lebih khawatir justru kalo gue ikut.
mungkin, kalo dilanjutin, bakal jadi gini,
’eh, gimana nih? Budi berangkat ama siapa?’
’siapa sih, yang ngajak dia? Gue mau dia ikut, tapi dia harus kesana dengan cara kanyut ke sungai!!.. kita ketemuan di sana!’
’eh enggak! Enggak!.. dia boleh ikut asal waktu abis dari sana dia nggak ngikut pulang kesini!!’
...
Ternyata bernegoisasi dengan si Wisnu alot banget! Kita pun berangkat setelah berhasil membujuk si Wisnu buat ikut dengan syarat-syarat yang diajuin si Wisnu.
   1. wisnu nggak mau pake motornya! (katanya motornya mau dipake orang dirumahnya entar malem)
   2. dia harus bawa kameranya sendiri! (dia nggak mau kalo pake kamera orang lain)
well, akhirnya gue boncengan ama Wisnu dengan motornya Ucik. Setelah ngambil kamera(terkutuknya) si Wisnu itu di rumahnya, kita pun secara resmi berangkat!!..
back song theme: senang, riang, hari yang kunantikan...
....
.....


(15:30)
Sekitar 1 jam perjalanan, anak-anak tiba di daerah Sidoarjo. Kita berhenti di sana buat ngisi bensin. Ya, ada sebagian yang belom ngisi bensin.
Kesialan keduapun terjadi.
Waktu kita nungguin si Arif yang masih ngisi bensin di SPBU, gue ngeliat pasangan Ucik ama Ririn dengan motor supra-nya itu mendekat ke tepi SPBU itu. Kita emang agak terpisah jauh tadi. Jadi kita sengaja nungguin mereka di tepi SPBU biar kita bisa saling tahu.
But, Did You know?
Sekitar 15 detik setelah itu, banyak orang-orang yang tiba-tiba aja berkerumun di selokan di depan SPBU! Terlihat ada satu dua orang yang juga ikut berlari mendekati selokan itu.
‘Ada apa nih rame-rame?’ pikir gue. Pasti ada apa-apa. Waktu gue ngeliat lebih teliti, ada beberapa orang yang menarik sebuah motor supra ke belakang. Terlihat motor itu abis jatuh.
Gue kaget.
”eh, itu kan motornya Ririn!” gue langsung ngasih tahu yang lain. Mereka langsung ngeliat ke arah tempat orang yang berkumpul itu.
”masa sih?” ada yang masih nggak percaya. Gue langsung aja lari ke sana buat mastiin apa yang terjadi.
Bener. Itu motornya Ririn. Gue langsung masuk ke kerumunan orang-orang itu. Gue langsung ngeliat sebuah pemandangan yang nggak lazim. Di sana terlihatlah Ucik yang masuk ke dalam selokan. Separuh celananya basah. Dia terlihat kayak nyari-nyari sesuatu. Kaca helmnya pecah. Lalu Ririn juga gitu. Dia juga ada di dalam selokan yang sama. (kompak banget ya mereka) Hampir keseluruhan celananya basah. Lengannya juga. Keliatan dia meringis sambil megang tangannya.
Awalnya gue ngira-ngira, apa mereka sedang pengen banget main dan pengen balik jadi anak kecil? Lalu saat mereka ngeliat sebuah selokan yang cukup besar, tanpa pikir panjang mereka langsung aja nyemplung dan mainan di sana? Tapi kayaknya nggak gitu.
”eh, kena apa??” gue yang nggak tahu apa-apa nyoba nyari tahu.
”mas siapanya?” salah satu orang yang berkerumun itu nanya ke gue.
”saya temennya!”
”oh... Temennya ini tadi, nggak tahu kenapa tiba-tiba aja nyungsep di got!!”
Nyungsep di got. Ya. gue bisa ngeliat jelas. Emang nggak mungkin kalo ’hasrat pengen mandi di got’ mereka ini tiba-tiba aja muncul di situasi kayak gini. Tapi pertanyaannya kenapa?
Anak-anak yang lain juga udah pada datang.
”Cik, ayo naek! Kamu lagi nyari apa sih??” gue masih heran ama Ucik yang dari tadi ngubek-ngubek isi selokan dengan kakinya itu.
”ini lho, nyari sepatunya Ririn! Ilang satu!”
”eh, udah! Naik dulu! Liat dulu, apa kalian nggak papa. Entar lagi nyari sepatunya.”
”eh, ada apa? Ada apa?” Galang ama Yoga tiba-tiba aja nanya dengan ekspresi panik gitu. Mereka berdua udah kayak sepasang homo yang temen-temennya diserbu dan digrebek ama kantib di depan matanya, tapi masa aja nanya ’eh, ada apa? Ada apa?’
”ini. nggak tahu, mereka tiba-tiba aja nyungsep ke got!”
”kok bisa?”
”ya nggak tahu juga. Mungkin mereka ngantuk kali. Eh, ayo Cik! Naik!.. ayo Rin!”
”ada-ada aja!..”
mereka berdua-pun akhirnya dibantu ama orang orang buat naik keatas.
...


                                                                      ***
”tadi tuh gasnya tiba-tiba aja nyantol waktu mau minggir ke sini!” Ririn ngejelasin dengan masih aja megangi tangannya. (yang kayaknya rasanya sakit)
”nyantol?” Ririn ngangguk. ” Kok?”
”padahal tadi aku udah bilang, Rin ayo gantian! Sekarang giliran aku yang nyetir.. kan emang udah waktunya giliranku buat nyetir. tapi dia masih aja bilang, udah nggak papa. Aku masih bisa nyetir kok! Ya udah.” Ucik menambahkan kesaksiannya. Wajahnya nggak berekspresi. Kayak udah biasa aja. Mungkin dia tiap hari udah berlatih yang lebih berat dari ini di rumahnya.
”oh... terus?”
”nah! waktu masih jauh dari sana tuh, Ririn berusaha buat ngurangin giginya tapi nggak bisa-bisa! Eh, tiba-tiba aja dia minggir ke tepi dan ...”
....
......

Aneh ya? katanya si Ririn nyetir tiba-tiba aja minggir dan nabrak dinding selokan. Motornya nggak ikut masuk sih, tapi katanya si Ucik, dia seperti kayak ngelakuin lompat harimau ama Ririn. Jadi waktu nabrak, Ucik terlempar, eh lebih tepatnya ngeloncati ke atas punggung si Ririn dan dengan sukses nyemplung ke selokan!! (Mungkin aja kalo mereka lebih sering ngelakuin itu, suatu saat mungkn mereka bisa ikut rombongan sirkus yang biasa gue liat di tipi-tipi itu.) Lalu entah Ririn punya kesetia-kawanan yang kuat sekali, bego, atau emang nggak kuat nahan tabrakan yang terjadi, dia juga ikut-ikutan nyemplung ke selokan juga!! Cuma motornya aja yang tergeletak tak bernyawa di atas. Nggak ngikut nyemplung.
Ini masih aja membingungkan..
Lalu balik lagi ke kesaksian dari Ririn. Katanya gasnya nyantol. Waktu gue tanya apa biasanya atau apa pernah motornya itu gasnya nyantol, katanya enggak. Waktu gue tanya ama Yoga setelah nyobain motornya Ririn muter-muter di sekitar situ selama beberapa menit, lalu bayar dua ribu ke gue karena lagunya udah abis, hehe!!.. ya nggak lah!.. katanya sih gasnya nggak nyantol.
”dia ngantuk! Wong gasnya loh gak nyantol waktu dicoba!!.”
Ada apa ya, dengan motornya si Ririn? Apa mungkin motor itu membawa kutukan?
...


                                                                       ***
Setelah bersihin badan Ririn dan ganti baju. Ririn dibawa ke RSJ terdekat dan dirawat di sana. Hingga kamu baca cerita ini, katanya udah lama dia memakai jaket yang lengannya diiket ke belakang karena tiap malam berusaha bunuh diri dengan cara melakukan lompat harimau. Dia tiap malam beruaha ngelakuin itu di sel-nya sambil tereak-tereak histeris,
”GASNYA BENERAN NYANTOL!!.. AGH!!.. KENAPA TAK SATUPUN YANG PERCAYA!!!... KENAPA!!!!...”
”TIDAAK!!.... TERKUTUK KALIAN SEMUA!!.. DASAR MANUSIA-MANUSIA LAKNAT!!!!...”

Bagi yang nggak percaya cerita barusan, bagus! Karena itu cuma iamjinasi abnormal gue.
Aslinya, Ririn cuma dibawa ke puskesmas terdekat aja. Si Yoga yang berjasa nganterin Ririn ke puskesmas dengan motornya Sisil. Lalu Arif dan Mayang nyusul kesana buat bantuin.
Lalu bagaimana dengan motornya Ririn? Keep read this story!
....

Setelah dapet kabar bahwa Ririn cuma keseleo aja dan bukannya patah tulang, kita bersukur banget. Terlihat, sebagian besar dari mereka bersukur bukan karena kabar Ririn yang ternyata nggak patah tulang, tapi lebih karena tahu perjalanan kita nggak jadi batal!
Mereka bener-bener sahabat sejati.
Kita lalu niat nyusul Ririn dan temen-temen berada setelah tahu lokasi tempat puskesmas-nya itu. Lalu bagaimana dengan motor supra ini?
Karena Yoga yang asalnya ama Sisil itu sekarang ama Ririn, maka mau nggak mau Ucik ama Sisil sekarang nggak ada pasangannya. Karena nggak mau ngeliat cewek pasangan cewek dan takutnya hal kayak tadi terulang lagi, maka gue ama Wisnu yang tukeran pasangan ama mereka.
(meski kita tahu sering berganti-ganti pasangan itu nggak baik!!)
So, pasangan baru itu adalah; (jeng-jeng-jengg!!..)
Wisnu ama Ucik. Make motornya Ucik. (mereka terlihat berbahagia)
Gue ama Sisil. Karena motornya Sisil dipake Yoga, maka gue (mau nggak mau) make motor.... ..motor... (hik-hik...) Supranya Ririn!
apes! (Sisil terlihat shock!)
...
....


Ternyata nggak semudah itu nyari lokasi puskesmas. Kita muter-muter dan nggak nemu lokasinya.
Kesialan ketiga terjadi disini.
Waktu kita masuk ke gang, buat nyari-nyari lokasinya, tiba-tiba aja Galang amaYoni berhenti dan menepi.
”eh, kenapa minggi..” gue berusaha nanya ke mereka yang udah minggir
”heh! Liat depan!..” mereka tiba-tiba aja teriak. Gue noleh depan.

BRAKK!!
...
Gue nyungsep nabrak motor Ucik ada di depan gue. Motor Ririn lagi-lagi tergeletak tak bernyawa. (emang dari tadi nggak bernyawa)
Anak-anak berlari ke gue dan bantuin buat ngangkat motor (terkutuk) ini.
Gue langsung kena polio. Jalan pincang. Kaki sebelah kanan gue sakit banget!
’Gila! Motor ini bener-bener bawa kutukan!’ pikir gue. ’tadi Ririn, sekarang gue!’
Plat nomor motor Ucik bagian belakang penyok.
...

(sekitar pukul 18:00)
Setelah berhasil nemuin si Ririn,(yang ternyata lagi berasik masyuk makan di warung lesehan ama temen-temen) kita ngelanjutin perjalanan setelah sholat maghrib di masjid.
Dan, perjalananan (terkutuk) inipun dilanjutkan....
....


Bersambung....

Bagaimakah lanjutan dari perjalanan dodol ini?
Apakah kita akan beneran nyampe ke Batu?

Apakah motor Ririn beneran membaw kutukan?

Ataukah bakalan ada lagi kesialan-kesialan selanjutnya?

Tunggu lanjutannya!!...





Baca Lanjutannya Ahh..